KUBAR – Perjuangan masyarakat terkait persoalan jalan di Bentian Besar sempat mengalami titik terberat ketika aksi yang dilakukan warga mendapat tekanan dari berbagai pihak. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kutai Barat, Rabu (17/6/2026).
Seorang perwakilan masyarakat mengaku pernah menyerah karena tidak sanggup menghadapi tekanan dan ancaman yang datang selama aksi berlangsung.
Perwakilan masyarakat tersebut, Arif Witara, menyampaikan permohonan maaf kepada anggota DPRD yang selama ini mendukung perjuangan masyarakat Bentian Besar. Ia mengaku belum memiliki pengalaman menghadapi persoalan besar yang melibatkan banyak pihak.
“Saya anak muda, usia 30 tahun, ini first time bisa seperti ini, saya berjuang buat tempat saya. Saya tidak bilang bahwa saya mengkhianati tempat saya, saya bilang tidak,” ujar Arif.
Ia menjelaskan, setelah RDP sebelumnya digelar, dirinya menyampaikan hasil rapat kepada masyarakat melalui media sosial. Keesokan harinya, ia bersama sejumlah warga melakukan aksi penahanan aktivitas di lapangan sebagai tindak lanjut dari hasil rapat tersebut.
Namun situasi di lokasi aksi tidak berjalan sesuai harapan. Kelompok masyarakat yang jumlahnya sedikit harus berhadapan dengan pihak perusahaan dan unsur lain yang jumlahnya jauh lebih banyak.
“Kami di situ cuma sembilan orang. Teman-teman dari perusahaan, dari security, dari pansus, dari seluruh teman-teman datang semua ke tempat. Jumlah mereka tiga kali lipat lebih banyak dari kami,” katanya.
Arif menuturkan, selama kurang lebih empat bulan perjuangan berlangsung, berbagai tekanan terus menghampiri dirinya. Bahkan, ia mengaku menerima ancaman yang membuatnya khawatir terhadap keselamatan diri dan keluarganya.
Menurut dia, sebagai seorang ayah yang masih memiliki anak-anak kecil, situasi tersebut sangat memengaruhi kondisi mentalnya. Ia mengaku sempat mengalami gangguan kecemasan hingga harus menjalani pemeriksaan ke psikiater.
“Satu setengah bulan saya anxiety. Saya ke psikiater dua kali. Hanya untuk merenung pertanggungjawaban saya terhadap keputusan saya ini. Itu keputusan paling bodoh dalam hidup saya untuk menyerah saat itu,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Arif juga membantah berbagai tudingan yang menyebut dirinya menerima uang dari perusahaan.
Ia mengatakan selama perjuangan berlangsung memang ada berbagai upaya pendekatan, namun dirinya memilih tetap bertahan pada prinsip yang diyakini.
“Kalau saya mau terima duit dari perusahaan, orang yang di depan ibu ini ada yang datang ke rumah saya. Tapi apa? Tidak. Saya lihat ada nilai yang harus saya pertahankan,” tegasnya.
Arif menyebut Aliansi Peduli Lingkungan tetap konsisten mengawal persoalan jalan di Bentian Besar selama enam bulan terakhir. Ketika masyarakat menyampaikan keluhan terkait kerusakan jalan, anggota aliansi turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi yang terjadi.
Menurutnya, apabila ditemukan kerusakan yang mengganggu masyarakat, pihaknya meminta perusahaan melakukan perbaikan terlebih dahulu sebelum aktivitas kendaraan kembali berjalan.
Ia juga menegaskan bahwa menjaga Bentian Besar bukan hanya tanggung jawab aliansi semata, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, pemerintah kampung, pemerintah daerah, DPRD dan pihak perusahaan.
“Tanah Bentian itu bukan tanggung jawab aliansi. Kami cuma beberapa orang. Tanggung jawab menjaga Bentian itu tanggung jawab seluruh masyarakat yang ada di Bentian,” ujarnya.
Arif kembali menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menerima uang sogokan dari perusahaan sebagaimana tudingan yang berkembang selama ini.
“Saya tidak pernah menerima sepeser pun uang sogokan dari perusahaan sampai hari ini,” tegasnya.
Arif mengaku pengalaman yang dialaminya menjadi pelajaran berharga untuk memperkuat mental dan komitmennya dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat Bentian Besar.
“Kalau hari ini Tuhan hancurkan mental saya dengan kecemasan yang berlebih, tidak apa-apa. Tapi saya percaya suatu hari nanti saya akan bangkit menjadi orang yang lebih kuat,” tutupnya.









Komentar