MATIM — Malam-malam dingin kini harus dilalui warga Desa Arus, Kecamatan Lamba Leda Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, di bawah tenda-tenda darurat setelah rumah mereka rusak akibat gempa bumi pada Sabtu (15/8/2026).
Sebagian warga mendirikan tempat perlindungan sementara menggunakan bahan yang tersedia di sekitar permukiman. Rumah yang mengalami kerusakan berat tidak lagi aman untuk dihuni, sementara jalur darat menuju wilayah tersebut hingga Rabu (19/8/2026) belum dapat diakses.
Kondisi itu membuat masyarakat menghadapi keterbatasan dalam memperoleh kebutuhan pokok. Persediaan makanan yang masih ada menjadi tumpuan keluarga untuk bertahan selama situasi darurat berlangsung.
Data yang disampaikan pemerintah desa mencatat sebanyak 66 rumah mengalami kerusakan berat. Sementara 112 rumah lainnya masuk kategori rusak sedang. Kerusakan tersebut tersebar di sejumlah titik permukiman warga.
Kepala Desa Arus, Beribertus Jehatu, mengatakan belum ada bantuan pemerintah yang diterima masyarakat sejak gempa mengguncang wilayah tersebut.
“Banyak rumah warga yang runtuh akibat gempa bumi hari Sabtu tanggal 15 Agustus 2026. Sejauh ini masyarakat hidup di tenda-tenda yang mereka buat sendiri dan sejauh ini juga belum ada bantuan pemerintah yang masuk di desa saya,” ujar Beribertus, Rabu (19/8/2026).
Menurut dia, warga yang kehilangan tempat tinggal harus mengatur kebutuhan keluarga dengan sumber daya yang tersisa. Situasi semakin berat bagi rumah tangga yang mempunyai bayi karena perlindungan di dalam tenda belum memberikan kenyamanan yang memadai.
“Rumah warga sudah tak bisa ditempati karena rusak parah. Korban gempa juga bertahan dengan bahan pangan seadanya di desa mereka. Sejak gempa melanda, warga mengaku belum ada bantuan yang masuk untuk mereka,” katanya.
Beribertus menyampaikan bahwa masyarakat membutuhkan perhatian segera, terutama karena kondisi tempat tinggal mereka tidak memungkinkan digunakan seperti sebelum bencana.
“Kami sudah merasa tidak nyaman karena rumah kami sudah hancur begini, kami hanya berdiri tenda-tenda seadanya sehingga untuk ke depan barangkali ada hati baik dari Bapak Pemerintah,” ungkapnya.
Kebutuhan yang mendesak, lanjutnya, meliputi bahan makanan, obat-obatan, perlengkapan bayi, serta berbagai keperluan untuk menunjang kehidupan di lokasi pengungsian sementara.
“Kalau untuk bantuan saya rasa belum ada, belum ada sama sekali. Dari obat-obatan, terutama bayi, apalagi kami hanya bangun tenda tengah malam dingin-dingin, sementara ada bayi juga. Itu yang kami rasa tidak nyaman,” tutur Beribertus.
Kehadiran bayi di antara keluarga yang mengungsi secara mandiri menjadi perhatian tersendiri. Suhu dingin pada malam hari serta keterbatasan fasilitas membuat orang tua harus memberikan perlindungan ekstra kepada anak-anak mereka.
Pihak desa berharap akses transportasi menuju Arus segera terbuka sehingga bantuan dari pemerintah maupun pihak lain dapat disalurkan. Tanpa akses yang memadai, distribusi kebutuhan dasar menjadi sulit dilakukan secara cepat.
Warga juga membutuhkan perlengkapan penunjang tempat tinggal sementara agar mereka tidak sepenuhnya bergantung pada bahan yang ditemukan di sekitar desa. Bantuan tersebut diharapkan dapat digunakan selama rumah yang mengalami kerusakan belum dapat diperbaiki.
Dengan total 178 rumah terdampak, masyarakat Desa Arus kini masih menunggu langkah penanganan dari pemerintah. Mereka berharap kondisi darurat tersebut segera mendapat perhatian sehingga kebutuhan dasar keluarga yang kehilangan tempat tinggal dapat terpenuhi.(es)








