MAKASSAR — Gelombang solidaritas terhadap masyarakat terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus bermunculan. Kali ini, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Patompo Makassar turun ke jalan untuk melakukan penggalangan dana bagi korban bencana.
Aksi tersebut menjadi bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat di sejumlah wilayah daratan Flores yang terdampak gempa. Para mahasiswa mengajak masyarakat dan pengguna jalan untuk ikut menyisihkan sebagian rezeki sebagai bantuan kemanusiaan bagi warga yang sedang menghadapi situasi sulit pascabencana.
Ketua BEM FKIP Universitas Patompo Makassar, Robiarto Mansen, mengatakan kegiatan penggalangan dana tersebut dilakukan karena mahasiswa merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut membantu masyarakat yang terdampak.
“Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Patompo Makassar turun ke jalan untuk melakukan penggalangan dana peduli gempa bumi di Flores NTT,” ujar Robiarto Mansen dengan Media Hariancerdas.com, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Robiarto, kepedulian mahasiswa semakin kuat karena sebagian mahasiswa yang terlibat dalam aksi tersebut berasal dari beberapa kabupaten di daratan Flores NTT. Mereka memiliki hubungan emosional dengan daerah yang terdampak karena Flores merupakan tanah asal mereka.
“Mereka ada sebagian mahasiswa yang berasal dari beberapa kabupaten di daratan Flores NTT yang merupakan wilayah yang kena dampak dari terjadinya gempa,” katanya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menyampaikan rasa prihatin, tetapi mengambil langkah nyata dengan turun langsung ke jalan dan menggalang bantuan.
“Ketika saudara-saudara kita di kampung sedang mengalami musibah, kami merasa tidak cukup hanya melihat dan prihatin. Kami ingin melakukan sesuatu yang bisa membantu,” ujar Robiarto.
Aksi penggalangan dana ini juga menjadi bagian dari gerakan solidaritas mahasiswa di Makassar terhadap korban gempa Flores. Sebelumnya, sejumlah kelompok mahasiswa asal Manggarai dan organisasi kemahasiswaan di Kota Makassar telah melakukan aksi serupa dengan turun ke sejumlah ruas jalan untuk mengumpulkan bantuan dari masyarakat.
Gerakan tersebut menunjukkan bahwa bencana di Flores turut mengetuk kepedulian masyarakat perantauan. Mahasiswa asal Flores yang sedang menempuh pendidikan di Makassar ikut mengambil peran dalam membantu masyarakat di daerah asal mereka.
Robiarto menilai mahasiswa memiliki posisi strategis untuk menggerakkan kepedulian sosial. Menurutnya, aksi turun ke jalan bukan semata-mata kegiatan organisasi, melainkan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
“Ini bukan soal organisasi kami saja. Ini soal kemanusiaan. Kami ingin mengajak semua orang untuk melihat bahwa saudara-saudara kita di Flores sedang membutuhkan dukungan,” tuturnya.
Ia berharap masyarakat Makassar dan para pengguna jalan dapat memberikan dukungan terhadap aksi tersebut. Bantuan yang diberikan, kata dia, tidak harus dalam jumlah besar karena setiap sumbangan memiliki arti bagi korban bencana.
“Berapa pun yang diberikan, bagi kami sangat berarti. Yang paling penting adalah keikhlasan dan kepedulian untuk membantu masyarakat yang terdampak,” katanya.
Robiarto juga berharap solidaritas terhadap korban gempa tidak berhenti pada aksi penggalangan dana. Ia mengajak berbagai elemen masyarakat untuk terus memperhatikan kondisi warga terdampak, terutama mereka yang masih membutuhkan kebutuhan dasar dan dukungan untuk kembali menjalani kehidupan setelah bencana.
“Kami berharap kepedulian ini terus berlanjut. Jangan sampai setelah berita tentang gempa mulai berkurang, perhatian terhadap korban juga ikut hilang,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat terdampak membutuhkan dukungan dalam proses pemulihan yang tidak singkat. Karena itu, mahasiswa BEM FKIP Universitas Patompo Makassar berkomitmen mengambil bagian sesuai kemampuan mereka.
“Semoga apa yang kami lakukan hari ini dapat memberikan manfaat bagi saudara-saudara kita di Flores dan menjadi contoh bahwa kepedulian bisa dimulai dari siapa saja,” pungkas Robiarto.(es)








