MAKASSAR – Melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Kota Makassar menjadi pengalaman menarik sekaligus penuh tantangan bagi mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT).
Jauh dari kampung halaman dan keluarga, mereka datang membawa harapan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Ada yang ingin menjadi guru, tenaga profesional, pengusaha, birokrat, maupun kembali ke daerah untuk membangun kampung halaman setelah menyelesaikan pendidikan. Namun, kehidupan mahasiswa di tanah rantau tidak selalu hanya tentang ruang kuliah, tugas, ujian, organisasi dan kegiatan kampus. Di balik almamater yang dikenakan ketika memasuki gerbang kampus, terdapat cerita lain yang jarang terlihat. Sebagian mahasiswa NTT di Makassar harus menjalani kehidupan sebagai pekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi sebagian mahasiswa, kuliah sambil bekerja menjadi pilihan untuk bertahan hidup di tengah tingginya kebutuhan selama berada di kota rantau. Berdasarkan pengamatan dan cerita yang ditemui di lingkungan mahasiswa NTT di Makassar, cukup banyak mahasiswa memilih menjalani dua aktivitas sekaligus, yakni kuliah dan bekerja. Angka sekitar 80 persen kerap disebut dalam cerita mengenai mahasiswa NTT yang menjalani kuliah sambil bekerja. Namun, angka tersebut bukan merupakan data statistik resmi yang mewakili seluruh mahasiswa NTT di Makassar. Kondisi setiap mahasiswa tentu berbeda, baik dari sisi ekonomi keluarga, dukungan orang tua, beasiswa, tempat tinggal maupun kebutuhan hidup masing-masing.
Yang jelas, bagi sebagian mahasiswa NTT, bekerja sambil kuliah telah menjadi bagian dari perjalanan mereka selama berada di Makassar. Mereka harus belajar membagi waktu antara pendidikan dan pekerjaan.
Keputusan untuk meninggalkan NTT dan melanjutkan pendidikan di Makassar bukanlah keputusan kecil. Bagi sebagian mahasiswa, perjalanan menuju Makassar merupakan pengalaman pertama hidup jauh dari keluarga. Di kampung halaman, kebutuhan sehari-hari mungkin masih dapat dibantu orang tua. Namun ketika berada di kota rantau, mahasiswa mulai berhadapan langsung dengan berbagai kebutuhan. Biaya kos, makanan, transportasi, pulsa, kebutuhan kuliah, buku, tugas, hingga kebutuhan pribadi harus dipikirkan.
Bagi mahasiswa yang memiliki dukungan ekonomi keluarga, berbagai kebutuhan tersebut mungkin masih dapat dipenuhi. Tetapi bagi mahasiswa dengan kondisi ekonomi terbatas, kehidupan di kota besar membutuhkan strategi tersendiri. Kuliah harus tetap berjalan. Kebutuhan hidup juga harus terpenuhi. Pada kondisi seperti inilah sebagian mahasiswa memilih bekerja. Mereka tidak ingin pendidikan berhenti hanya karena keterbatasan biaya hidup.
Mereka memilih mencari pekerjaan yang dapat dilakukan sambil tetap mempertahankan status sebagai mahasiswa.
Kuliah sambil bekerja bukan perkara mudah. Seorang mahasiswa harus memiliki kemampuan mengatur waktu dengan baik. Jadwal kuliah harus diperhatikan. Pekerjaan juga tidak boleh ditinggalkan. Tugas kampus harus diselesaikan. Di sisi lain, ada tanggung jawab pekerjaan yang harus dijalankan. Tidak jarang, waktu istirahat pun menjadi lebih sedikit.
Pagi digunakan untuk mempersiapkan diri menuju kampus. Siang hingga sore digunakan untuk mengikuti perkuliahan atau menyelesaikan tugas akademik. Setelah itu, sebagian mahasiswa kembali bekerja hingga malam. Sesampainya di tempat tinggal, masih ada tugas kuliah yang harus dikerjakan. Kondisi tersebut mungkin tidak dialami seluruh mahasiswa NTT di Makassar. Namun bagi mereka yang menjalaninya, rutinitas itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Mereka belajar bahwa menjadi mahasiswa di tanah rantau tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik. Dibutuhkan pula ketahanan mental, kedisiplinan, kemampuan mengatur keuangan dan keberanian menghadapi kehidupan secara mandiri.
Bagi mahasiswa laki-laki, pekerjaan yang dijalani cukup beragam. Ada yang bekerja di toko bangunan. Pekerjaan tersebut bukan pekerjaan ringan. Mereka harus melayani pelanggan, menata barang, mengangkat material dan menjalankan berbagai pekerjaan yang dibutuhkan di toko. Setelah menjalani pekerjaan yang menguras tenaga, mereka masih harus memikirkan perkuliahan.
Ada pula mahasiswa yang bekerja di warung kopi atau warkop. Lingkungan warkop menjadi salah satu tempat yang cukup dekat dengan kehidupan anak muda. Bagi mahasiswa yang bekerja di sana, mereka harus melayani pelanggan, menjaga kebersihan, menyiapkan pesanan dan menjalankan pekerjaan lain sesuai kebutuhan. Sementara itu, ada mahasiswa yang memilih menjadi penjual air galon keliling. Mereka harus bergerak dari satu tempat ke tempat lain untuk mengantarkan air kepada pelanggan.
Pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga dan waktu. Namun bagi mahasiswa yang menjalaninya, pekerjaan tersebut menjadi bagian dari usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mempertahankan pendidikan. Mereka mungkin tidak selalu mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi yang sedang dipelajari. Tetapi bagi mereka, pekerjaan tersebut bukan soal gengsi. Yang lebih penting adalah bagaimana mendapatkan penghasilan secara halal dan tetap dapat melanjutkan kuliah.
Sementara mahasiswa laki-laki memiliki beragam pilihan pekerjaan, sebagian mahasiswa perempuan memilih bekerja sebagai asisten rumah tangga atau ART. Pekerjaan tersebut memiliki tantangan tersendiri. Seorang mahasiswa perempuan yang bekerja sebagai ART harus menjalankan tanggung jawab pekerjaan sekaligus mengikuti pendidikan. Mereka harus mampu mengatur waktu agar pekerjaan tidak mengganggu perkuliahan. Di sisi lain, jadwal kuliah juga harus disesuaikan dengan tanggung jawab pekerjaan.
Bagi sebagian mahasiswa perempuan, pekerjaan sebagai ART menjadi salah satu jalan untuk mendapatkan penghasilan selama berada di Makassar. Mereka bekerja bukan karena tidak memiliki cita-cita. Justru sebaliknya, pekerjaan tersebut menjadi salah satu cara untuk mempertahankan cita-cita. Ada harapan bahwa suatu hari nanti pendidikan yang sedang ditempuh dapat membawa perubahan bagi kehidupan mereka dan keluarga.
Sebagai jurnalis Media Hariancerdas.com, saya berkesempatan mengenal sejumlah mahasiswa asal Manggarai yang sedang menjalani kuliah sambil bekerja di Kota Makassar. Dari interaksi dan cerita mereka, terlihat bahwa kehidupan mahasiswa di tanah rantau memiliki banyak sisi. Ada cerita tentang perjuangan. Ada cerita tentang pertemanan. Ada cerita tentang keluarga. Ada pula cerita tentang bagaimana mereka belajar menjadi mandiri.
Mahasiswa yang kuliah sambil bekerja harus terbiasa dengan kehidupan yang serba teratur. Waktu tidak boleh terbuang percuma. Ketika mahasiswa lain mungkin menggunakan waktu setelah kuliah untuk berkumpul atau beristirahat, sebagian mahasiswa pekerja harus segera menuju tempat kerja. Begitu pula ketika pekerjaan selesai. Mereka masih memiliki kewajiban sebagai mahasiswa. Tugas kuliah tetap harus dikerjakan.
Materi perkuliahan tetap harus dipelajari. Ujian tetap harus dihadapi. Di sinilah perjuangan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan mereka.
Ada sebuah gambaran sederhana yang menarik dari kehidupan mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Almamater kampus menjadi identitas mereka ketika berada di dalam lingkungan perguruan tinggi. Mereka datang sebagai mahasiswa. Mereka duduk di ruang kelas. Mereka mengikuti dosen. Mereka berdiskusi dengan teman. Mereka mengerjakan tugas.
Namun ketika keluar dari gerbang kampus, kehidupan mereka berubah. Ada yang menuju toko bangunan. Ada yang menuju warkop. Ada yang mengambil kendaraan untuk mengantarkan air galon. Ada yang menuju rumah tempat mereka bekerja sebagai ART. Di dalam gerbang kampus, mereka adalah mahasiswa. Di luar gerbang kampus, mereka menjadi pekerja. Dua identitas tersebut harus dijalani dalam satu kehidupan.
Tidak ada yang perlu dipermalukan dari kondisi tersebut. Justru dari sanalah mereka belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Kadang-kadang, seseorang harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan kesempatan pendidikan.
Masih ada anggapan bahwa mahasiswa seharusnya hanya fokus pada kuliah. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah. Pendidikan memang membutuhkan konsentrasi. Namun realitas kehidupan setiap mahasiswa berbeda. Bagi sebagian mahasiswa NTT di Makassar, bekerja bukan berarti mereka gagal menjadi mahasiswa. Sebaliknya, pekerjaan menjadi bagian dari perjuangan agar mereka tetap dapat menjadi mahasiswa.
Mereka bekerja untuk membeli makanan. Mereka bekerja untuk membayar kebutuhan tempat tinggal. Mereka bekerja untuk membeli kebutuhan kuliah. Mereka bekerja agar tidak selalu meminta kepada keluarga. Dengan demikian, pekerjaan bukan lawan dari pendidikan. Bagi sebagian mahasiswa, pekerjaan justru menjadi salah satu penopang agar pendidikan dapat terus berjalan.
Kehidupan di Makassar mengajarkan banyak hal kepada mahasiswa NTT. Salah satunya adalah kemandirian. Ketika berada jauh dari keluarga, mereka mulai memahami nilai uang. Mereka belajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Mereka belajar mengatur pengeluaran. Mereka belajar bertanggung jawab terhadap keputusan sendiri.
Mereka juga belajar menghadapi berbagai karakter manusia yang ditemui di tempat kerja. Semua pengalaman tersebut menjadi pendidikan yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas. Kampus memberikan ilmu akademik. Sementara kehidupan di luar kampus memberikan pengalaman sosial. Keduanya berjalan beriringan. Bagi mahasiswa yang bekerja, setiap hari menjadi kesempatan untuk belajar.
Mereka belajar dari dosen. Mereka belajar dari buku. Tetapi mereka juga belajar dari pelanggan, rekan kerja, majikan, lingkungan tempat tinggal dan berbagai pengalaman selama berada di kota rantau.
Cerita tentang mahasiswa NTT yang kuliah sambil bekerja tidak boleh digeneralisasi kepada seluruh mahasiswa NTT di Makassar. Tidak semua mahasiswa memiliki kondisi ekonomi yang sama. Ada yang mendapatkan dukungan penuh dari keluarga. Ada yang mendapatkan beasiswa. Ada yang tinggal bersama keluarga atau kerabat. Ada pula yang memang memilih fokus menyelesaikan pendidikan tanpa bekerja.
Karena itu, kisah kuliah sambil bekerja merupakan potret dari sebagian mahasiswa. Setiap mahasiswa memiliki jalan hidup masing-masing. Namun, kisah sebagian mahasiswa tersebut tetap penting untuk diceritakan karena menunjukkan sisi lain kehidupan pendidikan di tanah rantau. Mereka adalah mahasiswa yang mungkin tidak selalu terlihat dalam pemberitaan. Mereka tidak selalu tampil di panggung kampus. Tetapi mereka menjalani perjuangan setiap hari.
Menjalani dua peran sekaligus tentu memiliki konsekuensi. Kelelahan menjadi salah satu tantangan. Ada hari ketika tubuh terasa lelah setelah bekerja. Namun tugas kuliah tetap menunggu. Ada pula saat ketika jadwal pekerjaan bertabrakan dengan aktivitas kampus. Mahasiswa harus mencari solusi agar keduanya tetap berjalan.
Kemampuan mengatur waktu menjadi sangat penting. Mereka harus mengetahui kapan waktunya bekerja, kapan belajar dan kapan beristirahat. Kesalahan dalam mengatur waktu dapat memengaruhi keduanya. Pekerjaan bisa terganggu. Kuliah juga bisa tertinggal. Karena itu, mahasiswa yang menjalani dua aktivitas tersebut secara tidak langsung sedang belajar tentang manajemen kehidupan.
Di balik perjuangan mahasiswa NTT di Makassar, terdapat keluarga yang menunggu di kampung halaman. Orang tua mungkin tidak mengetahui secara detail bagaimana anak mereka menjalani kehidupan setiap hari. Mereka hanya berharap anaknya baik-baik saja dan dapat menyelesaikan pendidikan. Bagi sebagian mahasiswa, harapan keluarga menjadi motivasi untuk terus bertahan.
Mereka tahu bahwa ada orang tua yang telah berusaha mengirim mereka ke Makassar. Ada keluarga yang menaruh harapan pada pendidikan anak. Karena itu, meskipun kehidupan terasa berat, mereka berusaha untuk tidak menyerah. Pekerjaan yang dilakukan menjadi bagian dari usaha untuk menjaga harapan tersebut tetap hidup.
Bagi mahasiswa NTT, Makassar bukan hanya tempat untuk mendapatkan pendidikan. Kota ini juga menjadi ruang untuk belajar tentang kehidupan. Mereka belajar hidup berdampingan dengan berbagai karakter manusia. Mereka belajar bekerja. Mereka belajar menghadapi tekanan. Mereka belajar mengelola keuangan. Mereka belajar membangun jaringan pertemanan.
Dan yang tidak kalah penting, mereka belajar menjadi manusia yang lebih mandiri. Pengalaman tersebut kelak dapat menjadi modal ketika mereka kembali ke daerah masing-masing atau melanjutkan perjalanan hidup di tempat lain. Sebab, pendidikan tidak hanya berbicara tentang gelar. Pendidikan juga berbicara tentang proses membentuk manusia.
Mahasiswa sering kali dinilai dari almamater yang dikenakan. Kampus menjadi identitas. Jurusan menjadi kebanggaan. Prestasi akademik menjadi ukuran. Namun kehidupan mahasiswa yang bekerja menunjukkan bahwa ada sisi lain yang tidak terlihat. Jangan hanya melihat mahasiswa dari almamater yang mereka kenakan. Lihat pula perjuangan di baliknya.
Ada mahasiswa yang setelah kuliah harus bekerja. Ada yang harus mengangkat barang. Ada yang harus melayani pelanggan. Ada yang harus berkeliling mengantar air. Ada yang harus membersihkan rumah dan menjalankan pekerjaan rumah tangga. Mereka mungkin tidak mendapatkan tepuk tangan. Tetapi mereka sedang memperjuangkan sesuatu yang sangat penting bagi masa depan mereka.
Ketika pagi tiba, mereka masuk ke kampus sebagai mahasiswa. Ketika kuliah selesai, mereka keluar dari gerbang dan kembali menghadapi kehidupan nyata. Tidak ada batas yang benar-benar memisahkan pendidikan dan pekerjaan. Keduanya berjalan bersama. Kampus menjadi tempat mereka memperoleh pengetahuan. Pekerjaan menjadi tempat mereka belajar menerapkan tanggung jawab.
Dari dua ruang tersebut, mereka membentuk perjalanan hidup. Mungkin suatu hari nanti, ketika mereka telah menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, pengalaman sebagai pekerja saat kuliah akan menjadi cerita masa lalu. Mereka mungkin akan mengenang bagaimana dahulu pernah bekerja di toko bangunan. Pernah menjaga warkop. Pernah menjual air galon keliling. Atau pernah bekerja sebagai ART.
Cerita tersebut mungkin sederhana. Namun justru cerita sederhana itulah yang membentuk karakter.
Kisah mahasiswa NTT yang kuliah sambil bekerja di Makassar pada akhirnya bukan hanya cerita tentang pekerjaan. Ini adalah cerita tentang perjuangan. Cerita tentang keberanian meninggalkan kampung halaman. Cerita tentang belajar hidup mandiri. Cerita tentang bagaimana pendidikan tetap diperjuangkan meskipun kondisi ekonomi tidak selalu mudah.
Tidak semua mahasiswa NTT mengalami kehidupan yang sama. Namun bagi sebagian mahasiswa, kuliah sambil bekerja menjadi bagian dari perjalanan menuju masa depan. Mereka datang ke Makassar membawa mimpi. Mereka memasuki kampus membawa almamater. Mereka keluar dari kampus membawa tanggung jawab. Dan setiap hari, mereka terus berjalan di antara dua dunia tersebut.
Di dalam gerbang kampus, mereka adalah mahasiswa. Di luar gerbang kampus, mereka menjadi pekerja. Tetapi di balik kedua peran itu, mereka tetap memiliki satu tujuan yang sama: menyelesaikan pendidikan, membangun masa depan dan membuktikan kepada keluarga bahwa perjuangan di tanah rantau tidak sia-sia.
Kota Makassar akhirnya bukan hanya menjadi tempat mereka menempuh pendidikan. Bagi sebagian mahasiswa NTT, Makassar menjadi tempat mereka belajar tentang arti kemandirian, kerja keras dan tanggung jawab. Di kota inilah mereka belajar bahwa untuk mencapai cita-cita, terkadang seseorang tidak cukup hanya dengan duduk di ruang kelas. Ada saatnya buku harus diletakkan sejenak untuk bekerja. Ada saatnya tubuh harus menahan lelah. Ada saatnya waktu istirahat harus dikorbankan.
Namun, selama tujuan masih jelas, langkah tetap harus dilanjutkan. Sebab di balik setiap almamater yang dikenakan mahasiswa NTT di Makassar, mungkin ada cerita perjuangan yang tidak pernah terlihat. Dan di balik gerbang kampus, ada kehidupan lain yang menunggu mereka jalani.
Penulis: Eventius Suparno








