Jalan Strategis Tanpa Jembatan, Warga Manggarai Timur Masih Berjuang Seberangi Sungai

Senin, 12 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Perjalanan yang seharusnya menjadi penghubung antardesa justru dapat berubah menjadi perjuangan ketika musim hujan tiba

Perjalanan yang seharusnya menjadi penghubung antardesa justru dapat berubah menjadi perjuangan ketika musim hujan tiba

MANGGARAI TIMUR – Perjalanan yang seharusnya menjadi penghubung antardesa justru dapat berubah menjadi perjuangan ketika musim hujan tiba. Di Kali Wae Mokel, Desa Gunung Baru, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), warga masih menghadapi persoalan mendasar: menyeberangi sungai tanpa jembatan yang memadai.

Ketika debit air meningkat, aktivitas warga yang bergantung pada akses jalan kabupaten menuju kampung Mbata–Munda–Lait–Lete–Waelengga ikut terancam. Bahkan, sepeda motor yang menjadi salah satu sarana transportasi masyarakat harus diangkat bersama-sama agar bisa melewati aliran sungai.

Kondisi tersebut menggambarkan betapa pentingnya pembangunan infrastruktur dasar bagi masyarakat di wilayah yang selama ini mengandalkan jalan sebagai penghubung aktivitas ekonomi dan pelayanan publik.

Sekeng Lereng, melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, menyoroti kondisi jalan kabupaten tersebut sekaligus mendesak perhatian terhadap pembangunan Jembatan Wae Mokel.

“Jalan kabupaten Mbata–Munda–Lait–Lete–Waelengga di Manggarai Timur memiliki peran strategis dalam menghubungkan sejumlah desa di Kota Komba Utara, wilayah utara Borong, hingga bagian barat Elar Selatan,” tulis Sekeng Lereng.

Menurutnya, fungsi jalan tersebut tidak sekadar menghubungkan permukiman warga. Ruas itu juga memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat dan memperlancar aktivitas perekonomian di sejumlah kawasan.

Jalan tersebut menjadi akses menuju berbagai pusat kegiatan masyarakat, termasuk Pasar Waelengga, Pelabuhan Wae Wole, Pelabuhan Aimere, hingga Bandara Soa di Kabupaten Ngada.

Artinya, kondisi infrastruktur di ruas tersebut memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar kenyamanan perjalanan. Kelancaran akses turut menentukan distribusi hasil pertanian, pergerakan barang, serta kemudahan masyarakat menjangkau pusat perdagangan dan layanan umum.

Namun, potensi strategis itu belum sepenuhnya ditopang infrastruktur yang memadai. Ketiadaan jembatan di Kali Wae Mokel menjadi salah satu persoalan yang membutuhkan perhatian serius, terutama ketika kondisi cuaca meningkatkan risiko penyeberangan.

“Namun, akses strategis ini belum didukung infrastruktur yang memadai. Kali Wae Mokel di Desa Gunung Baru belum memiliki jembatan,” tulisnya.

Ia juga menggambarkan kesulitan yang harus dihadapi masyarakat ketika air sungai mulai meninggi pada musim hujan.

“Saat debit air meningkat pada musim hujan, warga harus menggotong sepeda motor untuk menyeberang,” lanjut Sekeng Lereng.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan infrastruktur bukan semata-mata menyangkut kualitas badan jalan. Keberadaan jembatan menjadi bagian penting untuk memastikan perjalanan warga dapat berlangsung lebih aman dan akses antarkawasan tetap terjaga.

Apabila penyeberangan tidak dapat dilalui akibat peningkatan debit air, aktivitas masyarakat berpotensi terganggu. Distribusi hasil pertanian, perjalanan menuju fasilitas kesehatan, kegiatan pendidikan, serta kebutuhan lain yang mengharuskan warga bepergian dapat menghadapi hambatan.

Karena itu, peningkatan kualitas jalan Mbata–Munda–Lait–Lete–Waelengga perlu berjalan seiring dengan pembangunan Jembatan Wae Mokel.

Dalam unggahannya, Sekeng Lereng menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tersebut merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat, bukan sekadar pelengkap jalan.

“Peningkatan kualitas jalan Mbata-Munda-Lait-Lete-Waelengga dan pembangunan Jembatan Wae Mokel menjadi kebutuhan penting untuk menjamin keselamatan warga, memperlancar distribusi hasil pertanian, mempermudah akses ke fasilitas kesehatan, pendidikan dan fasilitas publik lainnya, serta mencegah terputusnya akses antarkawasan,” tulisnya.

Sorotan ini menjadi pengingat bagi Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur bahwa pembangunan jalan harus memperhatikan kesinambungan akses, termasuk pada titik-titik penyeberangan sungai yang berpotensi menghambat mobilitas masyarakat.

Sebagai ruas berstatus jalan kabupaten, jalan Mbata–Munda–Lait–Lete–Waelengga membutuhkan perencanaan dan penanganan yang serius. Prioritas pembangunan perlu mempertimbangkan keselamatan warga, manfaat ekonomi, serta kebutuhan masyarakat yang setiap hari bergantung pada akses tersebut.

“Sebagai jalan kabupaten, ruas ini membutuhkan perhatian serius Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur,” tutup Sekeng Lereng .(Red)

Berita Terkait

Warga Busang Keluhkan Dugaan Tambang Ilegal, Sumber Air PDAM Jadi Kekhawatiran
Polusi PM2.5 Meningkat, BPBD Makassar Minta Warga Waspadai Dampak Kesehatan
Peternakan Babi di Permukiman Makassar Ditertibkan Usai Keluhan Warga
Karhutla Sumatra dan Kalimantan Belum Tuntas, Pemerintah Kerahkan 60 Ribu Personel
Karhutla Kalteng Tembus 17 Ribu Hektare, Candaan Agustiar Sabran Jadi Sorotan
Jangan Bicara 2029, Mahasiswa Desak Pemerintah Prioritaskan Korban Gempa Flores
Perjuangan Excel Belum Usai, Keluarga Berharap Bantuan untuk Pengobatan Lanjutan 
Korban Gempa Flores Disebut Meninggal di Tenda, Mahasiswa Desak Pemerintah Bertindak

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:05 WIB

Warga Busang Keluhkan Dugaan Tambang Ilegal, Sumber Air PDAM Jadi Kekhawatiran

Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:09 WIB

Polusi PM2.5 Meningkat, BPBD Makassar Minta Warga Waspadai Dampak Kesehatan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 08:35 WIB

Peternakan Babi di Permukiman Makassar Ditertibkan Usai Keluhan Warga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:41 WIB

Karhutla Sumatra dan Kalimantan Belum Tuntas, Pemerintah Kerahkan 60 Ribu Personel

Senin, 12 Oktober 2026 - 11:14 WIB

Jalan Strategis Tanpa Jembatan, Warga Manggarai Timur Masih Berjuang Seberangi Sungai

Berita Terbaru