Menanti Hujan di Kalimantan Tengah, Pemerintah Andalkan Modifikasi Cuaca untuk Bantu Pemadama

Rabu, 14 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan di tengah kepungan asap di Kalimantan Tengah.

Petugas berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan di tengah kepungan asap di Kalimantan Tengah.

KALTENG—Pemerintah mengubah strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Sebangau, Kalimantan Tengah, dengan memfokuskan upaya pada pemutusan kepala api menggunakan alat berat untuk membuat sekat. Langkah ini dilakukan untuk menghambat pergerakan api di tengah kondisi cuaca yang belum mendukung pemadaman secara alami.

Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, mengatakan pemerintah pusat dan daerah memiliki empati mendalam terhadap masyarakat yang selama tiga bulan terakhir terpapar asap akibat karhutla. Ia menegaskan, berbagai upaya terus dilakukan untuk mengendalikan kebakaran, meskipun petugas menghadapi tantangan besar di lapangan.

“Kami dari pemerintah, pusat maupun daerah, punya empati yang sangat dalam terhadap masyarakat yang memang tiga bulan terakhir ini terpapar oleh asap,” ujar Raja Juli Antoni, Selasa (13/10/2026).

Menurutnya, pemerintah tidak tinggal diam menghadapi dampak kebakaran yang mengganggu kehidupan masyarakat. Strategi penanganan kini tidak hanya diarahkan pada pemadaman titik-titik api, tetapi juga pada upaya memutus kepala api agar penyebaran kebakaran dapat dihambat.

“Jadi bukan sama sekali kita lepas tangan, cuci tangan, sama sekali tidak,” tegasnya.

Raja Juli menjelaskan, penggunaan alat berat untuk membuat sekat menjadi bagian dari strategi yang sedang dilakukan di kawasan Sebangau. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu petugas menghentikan pergerakan api, bukan sekadar mengejar titik kebakaran yang terus berkembang.

“Bukan lagi hanya sekadar memadamkan di titik-titik api yang ada, tapi sekarang kita coba memutus kepala apinya dengan mempergunakan alat berat menyekat apinya,” katanya.

Ia mengakui, strategi tersebut memiliki tingkat risiko yang tidak sederhana. Petugas harus menghadapi api secara langsung dalam upaya memutus arah penyebarannya. Karena itu, pelaksanaan pemadaman membutuhkan perencanaan dan kehati-hatian agar langkah yang dilakukan dapat berjalan sesuai kondisi di lapangan.

“Kepalanya itu diputus ya, jadi bukan lagi mengejar api, tapi justru menghadapi api dengan risiko yang nggak sederhana,” ungkapnya.

Dalam situasi tersebut, Raja Juli meminta dukungan masyarakat untuk bersama-sama menghadapi karhutla. Ia menilai tantangan yang dihadapi tidak mudah sehingga diperlukan dukungan dan kebersamaan dalam upaya penanganan kebakaran.

“Oleh karena itu, kami perlu minta dukungan dari masyarakat ya. Saatnya kita bareng-bareng ya, bersatu. Nggak mudah, suasana tidak mudah,” ujarnya.

Selain strategi pemadaman di lapangan, faktor cuaca juga menjadi perhatian pemerintah. Raja Juli menyebut berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan alami di Kalimantan Tengah diperkirakan baru berpotensi turun pada awal November. Kondisi tersebut menjadi tantangan tambahan bagi petugas yang berupaya mengendalikan kebakaran.

Untuk mendukung pemadaman, pemerintah terus menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Penyemaian awan dilakukan apabila terdapat bibit awan yang memungkinkan, termasuk di kabupaten yang tidak sedang mengalami karhutla.

“OMC dilakukan, di mana ada bibit awan. Apakah itu kabupaten yang ada karhutla atau tidak, tetap kita semai,” jelasnya.

Raja Juli menambahkan, operasi modifikasi cuaca tersebut ditujukan untuk membantu pembasahan lahan dan mendukung pemadaman melalui peningkatan peluang terjadinya hujan. (Red)

Berita Terkait

Warga Busang Keluhkan Dugaan Tambang Ilegal, Sumber Air PDAM Jadi Kekhawatiran
Polusi PM2.5 Meningkat, BPBD Makassar Minta Warga Waspadai Dampak Kesehatan
Peternakan Babi di Permukiman Makassar Ditertibkan Usai Keluhan Warga
Karhutla Sumatra dan Kalimantan Belum Tuntas, Pemerintah Kerahkan 60 Ribu Personel
Jalan Strategis Tanpa Jembatan, Warga Manggarai Timur Masih Berjuang Seberangi Sungai
Karhutla Kalteng Tembus 17 Ribu Hektare, Candaan Agustiar Sabran Jadi Sorotan
Jangan Bicara 2029, Mahasiswa Desak Pemerintah Prioritaskan Korban Gempa Flores
Perjuangan Excel Belum Usai, Keluarga Berharap Bantuan untuk Pengobatan Lanjutan 

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:26 WIB

Menanti Hujan di Kalimantan Tengah, Pemerintah Andalkan Modifikasi Cuaca untuk Bantu Pemadama

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:05 WIB

Warga Busang Keluhkan Dugaan Tambang Ilegal, Sumber Air PDAM Jadi Kekhawatiran

Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:09 WIB

Polusi PM2.5 Meningkat, BPBD Makassar Minta Warga Waspadai Dampak Kesehatan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 08:35 WIB

Peternakan Babi di Permukiman Makassar Ditertibkan Usai Keluhan Warga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:41 WIB

Karhutla Sumatra dan Kalimantan Belum Tuntas, Pemerintah Kerahkan 60 Ribu Personel

Berita Terbaru