JAKARTA —Pagi itu, ruang kelas yang biasanya dipenuhi suara guru menjelaskan pelajaran dan riuh siswa belajar, harus dikosongkan.
Gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores meninggalkan kerusakan di sejumlah satuan pendidikan. Dinding bangunan yang retak, ruang kelas yang tidak lagi aman, hingga aktivitas belajar yang harus dipindahkan menjadi bagian dari kenyataan yang kini dihadapi warga sekolah di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur.
Di tengah kondisi tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mempercepat pendataan sekolah yang terdampak gempa.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan pemerintah terus berkomunikasi dengan Gubernur NTT untuk memastikan data kerusakan yang dihimpun benar-benar akurat. Data tersebut menjadi dasar agar bantuan yang diberikan pemerintah dapat tepat sasaran.
“Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman,” kata Abdul Mu’ti di Jakarta Pusat, Jumat (4/9/2026).
Tim Kemendikdasmen telah diturunkan ke tujuh kabupaten di Pulau Flores. Wilayah tersebut meliputi Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Sikka.
Pendataan dilakukan bukan hanya untuk melihat kerusakan bangunan, tetapi juga memastikan bagaimana proses pendidikan tetap berjalan setelah bencana.
Berdasarkan data per 16 Agustus 2026, tercatat 253 satuan pendidikan terdampak. Jumlah tersebut terdiri atas 199 satuan pendidikan jenjang PAUD/TK, SD, SMP, dan SKB yang menjadi kewenangan kabupaten serta 54 satuan pendidikan jenjang SMA, SMK, dan SLB yang menjadi kewenangan provinsi.
Beberapa bangunan yang terdampak bahkan merupakan ruang kelas baru hasil program revitalisasi tahun 2026, di antaranya SDN Wae Wulan dan SDI Lengko Randang.
Namun, kerusakan bangunan bukan satu-satunya persoalan yang harus dihadapi dunia pendidikan.
Gempa tersebut juga menyebabkan korban jiwa dari lingkungan satuan pendidikan. Kemendikdasmen mencatat dua murid dan seorang guru meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Di sekolah yang bangunannya mengalami kerusakan, pemerintah mengarahkan agar kegiatan pembelajaran tidak dilakukan di ruang yang membahayakan keselamatan.
Sekolah dapat memindahkan pembelajaran ke ruang yang dinilai aman, menggunakan tenda belajar, atau meliburkan kegiatan belajar sementara sesuai kondisi di masing-masing daerah.
Bagi pemerintah, keputusan tersebut bukan sekadar persoalan menghentikan sementara kegiatan belajar. Ada keselamatan anak-anak dan tenaga pendidik yang harus ditempatkan di atas segala kepentingan.
Kemendikdasmen juga menyiapkan dukungan psikososial bagi warga sekolah melalui kerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI).
Layanan tersebut akan digerakkan setelah tim pendahuluan memastikan kondisi lapangan dan kebutuhan warga sekolah di wilayah terdampak.
Tidak berhenti pada pendataan dan dukungan psikososial, Kemendikdasmen juga menyiapkan 50 tenda Ruang Kelas Darurat untuk menjaga agar proses pendidikan tetap dapat berlangsung.
Pada tahap awal, sebanyak 30 tenda dikirim dari tempat penyimpanan di Jakarta dan Yogyakarta menuju Pelabuhan Labuan Bajo.
Pengiriman itu sekaligus membawa 1.000 paket Family Kit, 200 paket school kit umum, serta 2.000 paket school kit SMA/SMK untuk mendukung kebutuhan warga sekolah di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.
Di sejumlah wilayah yang mengalami gangguan listrik dan jaringan komunikasi, pemerintah juga menyiapkan dukungan konektivitas melalui Starlink.
Langkah tersebut menjadi penting karena pemulihan pendidikan di daerah terdampak tidak hanya membutuhkan bangunan yang aman, tetapi juga dukungan agar proses pembelajaran dapat kembali berjalan.
Abdul Mu’ti mengatakan tim lintas direktorat di lingkungan Kemendikdasmen mulai bergerak ke lapangan untuk mempercepat asesmen, verifikasi kerusakan, sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah daerah.
“Selain kerusakan bangunan, musibah gempa bumi juga menelan korban jiwa dari lingkungan satuan pendidikan yakni dua orang murid dan satu orang guru,” ujarnya.
Di tengah puing, retakan bangunan, dan ruang kelas yang sementara ditinggalkan, satu hal menjadi perhatian pemerintah: jangan sampai bencana menghentikan masa depan anak-anak NTT.
Karena itu, pendataan menjadi langkah awal. Dari data yang akurat, pemerintah menentukan sekolah mana yang harus segera diperbaiki, ruang mana yang masih dapat digunakan, dan kebutuhan apa yang harus dikirim ke setiap wilayah.
Pemulihan pendidikan di Flores pun berjalan bersamaan dengan upaya pemulihan kehidupan masyarakat setelah gempa. (even)








