GMNI Makassar dan KP-GRD Gelar Aksi, Soroti Kebijakan Pemerintah hingga Peran Militer di Ranah Sipil

Selasa, 21 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

MAKASSAR– Komite Pusat Gerakan Revolusi Demokratik (KP-GRD) bersama Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Makassar menggelar aksi unjuk rasa di kawasan pertigaan Jalan Hertasning–Jalan AP Pettarani, Kota Makassar, Selasa (21/7/2026).

Aksi tersebut diwarnai penyampaian sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, hingga isu demokrasi dan keterlibatan aparat militer dalam jabatan sipil.

Dalam aksi tersebut, massa membentangkan spanduk bertuliskan “Gulingkan Prabowo-Gibran, Pukul Balik Rezim Militeristik”. Selain itu, mereka juga menyuarakan tuntutan agar pemerintah menurunkan harga kebutuhan pokok, menjaga stabilitas pasokan bahan bakar minyak (BBM), serta mengembalikan TNI pada fungsi pertahanan sesuai tugas pokoknya.

Jenderal Lapangan aksi, Varin Smaun, mengatakan demonstrasi merupakan bentuk penyampaian aspirasi terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai belum memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat.

“Aksi ini merupakan bentuk protes kami terhadap kebijakan pemerintah yang menurut kami tidak mencerminkan nilai-nilai keadilan bagi rakyat,” ujar Varin Smaun di sela-sela aksi.

Menurut Varin, dua program yang menjadi sorotan massa adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Ia menilai kedua program tersebut belum memberikan manfaat yang dirasakan secara merata oleh masyarakat.

“Program MBG dan KDMP adalah kebijakan yang menurut kami belum menyentuh seluruh masyarakat kecil. Bahkan kami menilai pelaksanaannya telah menimbulkan persoalan, termasuk adanya kasus keracunan yang menjadi perhatian publik,” katanya.

Selain mengkritisi kedua program tersebut, massa aksi juga menyampaikan sejumlah tuntutan lain. Mereka meminta pemerintah menurunkan harga kebutuhan pokok, mewujudkan upah layak secara nasional, mengevaluasi bahkan menghapus Program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, mendorong nasionalisasi aset-aset vital yang dinilai strategis, menjaga stabilitas pasokan BBM, serta menghadirkan pendidikan gratis dan peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.

Varin berpendapat, sejumlah program prioritas pemerintah berdampak terhadap alokasi anggaran di sektor lain yang dianggap sama pentingnya.

“Kami menilai kebijakan MBG dan KDMP telah berdampak pada pemangkasan anggaran pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan guru. Karena itu kami meminta pemerintah mengevaluasi kebijakan tersebut secara menyeluruh,” ujarnya.

Dalam orasinya, massa juga menyoroti keterlibatan anggota TNI dan Polri dalam jabatan sipil serta pembangunan markas komando teritorial.

Menurut mereka, perlu ada pemisahan yang tegas antara fungsi pertahanan dan keamanan dengan jabatan sipil agar prinsip negara demokrasi dan supremasi hukum tetap terjaga.

“Kami berpandangan bahwa keterlibatan tentara dan polisi dalam jabatan sipil berpotensi mengurangi prinsip negara hukum dan demokrasi karena institusi tersebut bekerja dengan sistem komando dan hierarki yang berbeda dengan tata kelola pemerintahan sipil,” kata Varin.

Ia juga mengaitkan pandangan tersebut dengan pengalaman sejarah Indonesia pada masa Orde Baru. Menurutnya, pelibatan militer dalam berbagai sektor pemerintahan pada masa itu menjadi salah satu pelajaran penting yang perlu diperhatikan dalam kehidupan demokrasi saat ini.

“Sejarah telah membuktikan bagaimana pada masa Orde Baru militer memiliki peran yang sangat besar dalam jabatan sipil. Kami tidak ingin praktik seperti itu kembali terjadi sehingga kami meminta pemerintah tetap menjaga prinsip supremasi sipil,” tegasnya.

Di akhir penyampaiannya, Varin menegaskan bahwa seruan “Gulingkan Prabowo-Gibran, Pukul Balik Rezim Militeristik” merupakan sikap politik organisasinya yang lahir dari akumulasi berbagai kritik terhadap kebijakan pemerintah.

“Gulingkan Prabowo-Gibran, Pukul Balik Rezim Militeristik adalah akumulasi dari keseluruhan tuntutan yang kami sampaikan hari ini,” tutup Varin. (es)

 

Berita Terkait

Proyek Jalan Rp2,3 Miliar Diduga Mangkrak, Warga Kutai Barat Tagih Pertanggungjawaban Kontraktor dan Pemerintah
Iswanda Ramli Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Ideologi Pancasila di Medan
DPP Partai Cinta Negeri Usung Samsuri sebagai Capres 2029, Beri Mandat Penuh Tentukan Cawapres
Operasi Antik Mahakam 2026, Polsek Melak Bongkar Peredaran Sabu, 19 Poket Disita
Pemuda Katolik Kota Makassar Gelar Mapenta Akbar 2026, Siapkan Kader Muda Berlandaskan Iman dan Nilai Kebangsaan
Argentina Singkirkan Swiss 3-1, Lolos ke Semifinal Piala Dunia 2026
Operasi Antik Mahakam 2026, Satresnarkoba Polres Kutai Barat Amankan Terduga Pelaku Beserta Barang Bukti Diduga Sabu
PT Kerinci Merangin Hidro Khitan Gratis 50 Anak, Perkuat Komitmen CSR untuk Kesehatan Masyarakat

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 06:37 WIB

Proyek Jalan Rp2,3 Miliar Diduga Mangkrak, Warga Kutai Barat Tagih Pertanggungjawaban Kontraktor dan Pemerintah

Rabu, 22 Juli 2026 - 21:30 WIB

Iswanda Ramli Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Ideologi Pancasila di Medan

Rabu, 22 Juli 2026 - 21:22 WIB

DPP Partai Cinta Negeri Usung Samsuri sebagai Capres 2029, Beri Mandat Penuh Tentukan Cawapres

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:13 WIB

GMNI Makassar dan KP-GRD Gelar Aksi, Soroti Kebijakan Pemerintah hingga Peran Militer di Ranah Sipil

Selasa, 21 Juli 2026 - 16:27 WIB

Operasi Antik Mahakam 2026, Polsek Melak Bongkar Peredaran Sabu, 19 Poket Disita

Berita Terbaru