GUNUNGSITOLI – Harapan baru kini menyinari rumah sederhana milik Ama Ripin di Dusun I, Desa Humene, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli. Setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan tanpa penerangan yang memadai, keluarga tersebut akhirnya dapat menikmati cahaya listrik dari bantuan lampu tenaga surya yang diberikan melalui Gerakan Peduli Kota Gunungsitoli, Rabu (3/6/2026).
Keluarga Ama Ripin selama ini tinggal di sebuah rumah sederhana di kawasan pesisir dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Ketika malam tiba, kegelapan menjadi bagian dari keseharian mereka. Anak-anak kesulitan belajar dan berbagai aktivitas keluarga harus dihentikan lebih awal karena minimnya penerangan.
Kondisi tersebut mendapat perhatian tokoh Nias yang berdomisili di Jakarta, Yusman Dawolo. Setelah menerima laporan dari relawan Gerakan Peduli Kota Gunungsitoli mengenai keadaan keluarga tersebut, ia langsung berinisiatif memberikan bantuan berupa satu paket lampu tenaga surya lengkap.
Menurut Yusman Dawolo, kepedulian terhadap sesama harus diwujudkan melalui tindakan nyata, terutama ketika menyangkut masa depan anak-anak.
“Tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena tidak memiliki penerangan. Ketika kita mampu membantu, sekecil apa pun, maka itu harus dilakukan. Kepedulian harus diwujudkan melalui tindakan nyata,” ujar Yusman dengan Media ini, Kamis 4 Juni 2026.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama Gerakan Peduli adalah menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Kami ingin Gerakan Peduli menjadi rumah bersama bagi masyarakat. Tidak cukup hanya berbicara tentang perubahan, tetapi harus hadir membawa manfaat yang nyata. Ketika ada saudara kita yang mengalami kesulitan, kita tidak boleh membiarkan mereka berjuang sendirian,” tambahnya.
Bantuan tersebut kemudian dipasang secara gotong royong oleh para relawan Gerakan Peduli Kota Gunungsitoli sehingga dapat langsung digunakan oleh keluarga penerima manfaat.
Sekretaris Gerakan Peduli Kota Gunungsitoli, Famos Harefa, mengatakan bahwa gerakan sosial yang dibangun organisasinya bertujuan menjawab kebutuhan nyata masyarakat, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan.
“Relawan Gerakan Peduli rela meluangkan waktu, tenaga, bahkan materi untuk membantu masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Ini adalah bentuk kepedulian yang kami bangun bersama,” kata Famos.
Menurutnya, kehadiran Gerakan Peduli bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi juga memastikan masyarakat merasakan perhatian dan dukungan dari sesama.
“Kami berharap bantuan sederhana ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi keluarga Ama Ripin, terutama bagi anak-anak yang kini dapat belajar dengan lebih nyaman pada malam hari,” ujarnya.
Momen paling mengharukan terjadi ketika lampu tenaga surya yang baru dipasang mulai menyala. Cahaya yang menerangi rumah sederhana di tepi pantai itu menjadi simbol hadirnya harapan baru bagi keluarga Ama Ripin.
Dengan mata berkaca-kaca, Ama Ripin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan yang diterimanya.
“Selama ini rumah kami gelap pada malam hari. Hari ini, berkat bantuan Bapak Yusman Dawolo melalui Gerakan Peduli, rumah kami sudah terang. Anak-anak kami bisa belajar pada malam hari. Kami tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan ini,” ungkapnya.
Ia juga mendoakan agar seluruh pihak yang telah membantu keluarganya senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan.
“Semoga Tuhan membalas semua kebaikan Bapak Yusman Dawolo dan seluruh tim Gerakan Peduli serta memberikan kesehatan dan rezeki yang berlimpah,” tuturnya.
Bagi keluarga Ama Ripin, bantuan tersebut bukan sekadar lampu tenaga surya. Cahaya yang kini menerangi rumah mereka menjadi bukti bahwa masih ada kepedulian yang hadir di tengah keterbatasan. Di pesisir Humene yang sederhana, secercah harapan kini kembali menyala dan memberi semangat baru untuk menatap masa depan. (Yarmend).









Komentar