Gempa M7,7 Guncang Flores: 75 Orang Meninggal, 907 Luka, Lebih dari 92 Ribu Mengungsi

Jumat, 21 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

NUSA TENGGARA TIMUR — Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pagi. Bencana tersebut menjadi salah satu gempa paling merusak di wilayah NTT dalam beberapa tahun terakhir, dengan dampak meluas ke sejumlah kabupaten di Pulau Flores.

Hingga Kamis, 20 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 75 orang meninggal dunia dan 907 orang mengalami luka-luka. Pada saat yang sama, jumlah warga yang mengungsi telah mencapai 92.735 orang.

Data tersebut masih bersifat dinamis karena proses pencarian, pendataan, verifikasi korban, serta pemeriksaan kerusakan bangunan masih berlangsung di sejumlah wilayah terdampak.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa utama terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58.23 WIB atau 05.58 WITA.

Hasil pemutakhiran BMKG menunjukkan gempa berkekuatan M7,7, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Episenter berada di laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo/Mbay, pada koordinat sekitar 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur.

Gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust, dengan mekanisme sesar naik.

Guncangan kuat dirasakan di berbagai wilayah Flores, termasuk Nagekeo, Ngada, Ende, Sikka, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat dan wilayah lainnya. Guncangan juga dirasakan hingga sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.

Gempa utama juga memicu peringatan dini tsunami. BMKG menetapkan sejumlah wilayah pesisir NTT dalam status Siaga dan Waspada.

Wilayah yang masuk dalam pemodelan ancaman antara lain bagian utara Manggarai, Ngada, Manggarai Barat, Ende, Sikka dan Flores Timur. Peringatan juga mencakup sejumlah wilayah di NTB dan Sulawesi Selatan.

BMKG kemudian mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB.

Meski demikian, hasil pengamatan pasang surut menunjukkan tsunami memang terjadi di sejumlah lokasi. BMKG mencatat gelombang tsunami terdeteksi di beberapa titik, antara lain Sikka, Pelabuhan Kewapante, Flores Timur, Labuan Bajo, Maurole-Ende, Dompu, Alor, Baubau, Bulukumba dan Kolaka.

Ketinggian tertinggi yang tercatat dalam pengamatan awal mencapai 0,94 meter di Maurole, Ende. Dalam pemutakhiran berikutnya, BMKG mencatat ketinggian tsunami tertinggi 1,605 meter di Pota, Manggarai Timur.

Data BPBD Provinsi NTT yang dihimpun hingga 18 Agustus menunjukkan kerusakan rumah tersebar sedikitnya di delapan kabupaten, yaitu:

1. Manggarai
2. Manggarai Barat
3. Manggarai Timur
4. Ende
5. Sikka
6. Ngada
7. Nagekeo
8. Sumba Timur

BPBD NTT pada 18 Agustus mencatat 19.297 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari 6.463 rumah rusak berat, 2.481 rusak sedang dan 12.006 rusak ringan. Angka tersebut masih merupakan pendataan sementara.

Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling berat.

Dalam pendataan BPBD NTT per 18 Agustus, terdapat 7.480 rumah terdampak. Pada tahap pendataan tersebut, rincian rusak berat, sedang dan ringan untuk Manggarai Timur belum dipisahkan secara lengkap.

Sementara berdasarkan data BNPB yang dihimpun pada 18 Agustus, Manggarai Timur mencatat 25 korban meninggal dunia, 442 orang luka berat dan 513 orang luka ringan.

Jumlah pengungsi mencapai sekitar 15.465 orang, terdiri dari 966 orang di posko BPBD dan sekitar 14.499 orang yang mengungsi secara mandiri.

Kondisi di sejumlah wilayah pedalaman Manggarai Timur juga menjadi perhatian karena sebagian warga masih bertahan di tempat pengungsian mandiri dan membutuhkan tenda, makanan, air bersih serta perlengkapan dasar.

Kabupaten Manggarai juga termasuk daerah dengan korban jiwa dan pengungsi yang tinggi.

Data BNPB per 18 Agustus mencatat 27 orang meninggal dunia, 31 orang mengalami luka berat dan 88 orang luka ringan. Jumlah pengungsi mencapai sekitar 6.487 jiwa.

Data BPBD NTT per 18 Agustus mencatat 1.983 rumah terdampak, terdiri atas 1.597 rusak berat, 263 rusak sedang dan 123 rusak ringan.

Manggarai Barat menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan cukup besar, terutama di kawasan utara dan sejumlah wilayah pesisir.

BPBD NTT mencatat 3.493 rumah rusak, terdiri dari 1.410 rusak berat, 635 rusak sedang dan 1.448 rusak ringan.

Di Pulau Longos, Kecamatan Boleng, misalnya, warga memilih mengungsi ke kawasan perbukitan. Sebanyak 322 kepala keluarga dilaporkan mengungsi secara mandiri dan mendirikan sekitar 10 titik permukiman darurat.

BNPB juga menyalurkan bantuan melalui jalur laut karena kondisi geografis membuat sejumlah wilayah pesisir dan kepulauan membutuhkan pola distribusi khusus.

Nagekeo merupakan wilayah yang menjadi pusat gempa.

BPBD NTT mencatat 2.862 rumah terdampak, dengan 1.373 rumah rusak berat, 260 rusak sedang dan 1.229 rusak ringan.

Pada hari kejadian, warga di sejumlah wilayah Nagekeo merasakan guncangan sangat kuat dan berhamburan keluar rumah. Pemerintah daerah juga melakukan evakuasi warga pesisir menyusul peringatan dini tsunami.

Satu tambahan korban meninggal dunia juga dilaporkan berasal dari Kabupaten Nagekeo dalam pemutakhiran BNPB 19 Agustus.

Kabupaten Ngada juga mengalami kerusakan cukup luas.

BPBD NTT mencatat 2.296 rumah terdampak, terdiri atas 698 rumah rusak berat, 465 rusak sedang dan 1.133 rusak ringan.

Ngada juga termasuk wilayah yang memperoleh perhatian dalam distribusi bantuan karena sebagian daerah terdampak berada di kawasan dengan akses yang tidak mudah.

Kabupaten Ende tercatat mengalami 951 rumah rusak, dengan rincian 285 rusak berat, 149 rusak sedang dan 537 rusak ringan.

Kota Ende dan sejumlah wilayah lainnya merasakan guncangan kuat. BMKG mencatat intensitas guncangan mencapai sekitar V MMI di Kota Ende, sedangkan wilayah Wolowae di Nagekeo bahkan mencapai VI MMI dalam catatan pengamatan awal.

Kabupaten Sikka menjadi salah satu wilayah yang terdampak sejak menit-menit pertama gempa.

Pada hari kejadian, dua orang dilaporkan meninggal dunia akibat bangunan roboh di kawasan Pelabuhan Lorens Say/Maumere. Tim SAR gabungan kemudian melakukan evakuasi dan pencarian di lokasi.

BPBD NTT pada 18 Agustus mencatat 227 rumah terdampak di Sikka, terdiri atas 158 rusak berat, 18 rusak sedang dan 51 rusak ringan.

Dampak gempa juga tercatat sampai Kabupaten Sumba Timur. BPBD NTT melaporkan lima rumah mengalami kerusakan, seluruhnya masuk kategori rusak ringan.

Pasca-gempa utama, aktivitas kegempaan tidak langsung berhenti.

BMKG mencatat jumlah gempa susulan terus meningkat. Pada 18 Agustus pukul 05.00 WIB tercatat 2.119 gempa susulan. Pada 19 Agustus jumlahnya meningkat menjadi 2.768 kejadian, kemudian mencapai 3.002 kejadian pada 19 Agustus pukul 14.00 WIB.

Hingga 20 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 3.752 aktivitas gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai M6,2.

Pada 20 Agustus, sejumlah gempa susulan kembali dirasakan masyarakat. Salah satunya gempa yang pada pemutakhiran BMKG tercatat sekitar M5,8 di wilayah darat timur laut Ruteng, Manggarai. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan akan terus mengalami penurunan, tetapi masyarakat tetap diminta waspada. Perkiraan tersebut bukan berarti gempa susulan sama sekali tidak mungkin terjadi setelah aktivitas mulai menurun.

Pendataan kerusakan mengalami peningkatan signifikan seiring masuknya laporan dari daerah-daerah yang sebelumnya belum terjangkau.

Pada 17 Agustus, BPBD NTT masih mencatat 7.968 rumah rusak dan 744 fasilitas umum/infrastruktur terdampak.

Sehari kemudian, data sementara BPBD yang dipublikasikan ANTARA mencatat 19.297 rumah rusak di delapan kabupaten.

Sementara data BNPB yang dipublikasikan pada 20 Agustus mencatat angka kerusakan kembali meningkat menjadi 29.001 rumah, terdiri atas 11.699 rusak berat, 6.542 rusak sedang dan 10.760 rusak ringan.

Perbedaan angka antarhari tersebut menunjukkan bahwa proses verifikasi kerusakan masih berlangsung dan data dapat berubah.

Gempa juga berdampak besar terhadap sektor pendidikan.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat 253 satuan pendidikan terdampak di tujuh kabupaten di Pulau Flores, yakni Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat dan Sikka.

Rinciannya terdiri atas 199 satuan pendidikan jenjang PAUD/TK, SD, SMP dan SKB serta 54 satuan pendidikan SMA, SMK dan SLB.

Berdasarkan data Kemendikdasmen yang dipublikasikan RRI, kerusakan sekolah tersebar di Manggarai sebanyak 104 satuan pendidikan, Manggarai Timur 52, Nagekeo 44, Ende 39, Ngada 35, Sikka 27 dan Manggarai Barat 23 satuan pendidikan.

Pemerintah menyiapkan 50 tenda ruang kelas darurat untuk menjaga kegiatan pendidikan tetap berjalan di lokasi yang bangunannya belum aman digunakan. Bantuan juga mencakup family kit dan school kit.

Lonjakan jumlah pengungsi menjadi salah satu persoalan terbesar pascagempa.

Pada 18 Agustus, BNPB mencatat sekitar 40.040 warga mengungsi. Jumlah terbesar berada di Manggarai Timur, yakni 15.465 orang.

Pada 19 Agustus, jumlah pengungsi meningkat menjadi 59.647 orang, dengan Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 20.333 orang.

Kemudian pada 20 Agustus pukul 16.00 WIB, jumlah pengungsi kembali melonjak menjadi 92.735 orang.

Sebagian warga memilih mengungsi secara mandiri karena rumah mereka mengalami kerusakan atau karena masih takut terhadap gempa susulan.

Pemerintah mengerahkan jalur udara, laut dan darat untuk mendistribusikan bantuan.

BNPB menyebut bantuan dikirim menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara dan pesawat kargo komersial dengan tujuan utama Labuan Bajo dan Maumere. Bantuan tersebut antara lain berupa sembako, makanan siap saji, obat-obatan, tenda, matras, kasur lipat, selimut, pakaian, toilet portabel, genset dan perlengkapan kebersihan.

KRI Bung Hatta juga dikerahkan membawa bantuan dari Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reok di Kabupaten Manggarai untuk selanjutnya didistribusikan ke Manggarai dan Manggarai Timur.

BNPB juga membangun tiga titik Pos Dukungan Logistik Nasional, yakni di Jakarta, Labuan Bajo dan Maumere. Pos Labuan Bajo melayani distribusi untuk Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur, sedangkan Pos Maumere melayani Ngada, Nagekeo, Ende dan Sikka.

Hingga 19 Agustus, BNPB menyatakan total bantuan yang telah didistribusikan mencapai ratusan ton melalui jalur udara dan laut.

Namun, kondisi geografis Flores, lokasi pengungsian yang tersebar dan sejumlah akses jalan yang terganggu membuat distribusi bantuan tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat ke seluruh titik.

Selain penanganan korban dan pengungsian, pemerintah juga melakukan pemulihan infrastruktur.

Sejumlah titik longsor dan kerusakan jalan ditangani oleh Kementerian Pekerjaan Umum bersama pemerintah daerah. Data yang dihimpun dari BNPB menyebut 32 dari 33 titik longsor telah ditangani sehingga kembali operasional, sementara sejumlah titik patahan jalan dan jembatan juga mulai difungsikan.

Pemulihan kelistrikan juga dilakukan secara bertahap. Jaringan listrik Flores bagian timur dan barat dilaporkan telah mencapai tingkat pemulihan hampir seluruhnya, meskipun sejumlah pelanggan di lokasi tertentu masih membutuhkan penanganan.

Penanganan kesehatan menjadi kebutuhan penting karena jumlah korban luka terus bertambah.

Pemerintah mengerahkan tenaga kesehatan serta membangun rumah sakit lapangan di wilayah terdampak. BNPB juga mengerahkan dukungan TNI/Polri dan unsur terkait untuk pelayanan kesehatan, evakuasi serta distribusi logistik.

Selain korban luka fisik, pemerintah dan relawan juga mulai memberikan dukungan psikososial bagi warga, terutama anak-anak dan kelompok rentan yang mengalami trauma akibat gempa dan kehilangan tempat tinggal.

BMKG dan BNPB mengingatkan masyarakat untuk tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Warga diminta menjauhi bangunan yang retak atau rusak dan tidak memaksakan diri kembali ke rumah sebelum bangunan dinyatakan aman.

BNPB juga mengingatkan bahwa gempa susulan masih mungkin terjadi dalam beberapa pekan setelah gempa utama. Aktivitas tersebut diperkirakan terus mengalami penurunan, tetapi masyarakat tetap harus waspada.

Memasuki Jumat, 21 Agustus 2026, penanganan bencana gempa Flores masih berlangsung.

Angka 75 korban meninggal, 907 korban luka dan 92.735 pengungsi merupakan data terbaru yang berhasil ditemukan dalam laporan media berdasarkan pembaruan BNPB hingga Kamis, 20 Agustus pukul 16.00 WIB. Sementara BMKG hingga 20 Agustus pukul 14.00 WIB mencatat 3.752 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo terbesar M6,2.

Jumlah tersebut masih berpotensi berubah karena proses pencarian korban, verifikasi lapangan dan pendataan kerusakan masih dilakukan.

Dengan wilayah terdampak yang tersebar dari Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka hingga Sumba Timur, kebutuhan utama masyarakat saat ini bukan hanya evakuasi dan makanan, tetapi juga tempat tinggal sementara, air bersih, layanan kesehatan, perlengkapan keluarga, dukungan psikososial, pemulihan sekolah serta percepatan perbaikan akses transportasi.

Gempa Flores meninggalkan pekerjaan kemanusiaan yang panjang. Setelah fase penyelamatan dan tanggap darurat, tantangan berikutnya adalah memastikan warga yang kehilangan rumah dapat kembali hidup dengan aman, anak-anak kembali belajar, fasilitas umum pulih, serta pembangunan kembali dilakukan dengan standar yang lebih tahan terhadap gempa.

 

Catatan redaksi: Data korban, pengungsi dan kerusakan dalam berita ini menggunakan pembaruan pada waktu yang berbeda karena angka resmi berubah cepat.

Berita Terkait

Warga Busang Keluhkan Dugaan Tambang Ilegal, Sumber Air PDAM Jadi Kekhawatiran
Polusi PM2.5 Meningkat, BPBD Makassar Minta Warga Waspadai Dampak Kesehatan
Peternakan Babi di Permukiman Makassar Ditertibkan Usai Keluhan Warga
Karhutla Sumatra dan Kalimantan Belum Tuntas, Pemerintah Kerahkan 60 Ribu Personel
Jalan Strategis Tanpa Jembatan, Warga Manggarai Timur Masih Berjuang Seberangi Sungai
Karhutla Kalteng Tembus 17 Ribu Hektare, Candaan Agustiar Sabran Jadi Sorotan
Jangan Bicara 2029, Mahasiswa Desak Pemerintah Prioritaskan Korban Gempa Flores
Perjuangan Excel Belum Usai, Keluarga Berharap Bantuan untuk Pengobatan Lanjutan 

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:05 WIB

Warga Busang Keluhkan Dugaan Tambang Ilegal, Sumber Air PDAM Jadi Kekhawatiran

Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:09 WIB

Polusi PM2.5 Meningkat, BPBD Makassar Minta Warga Waspadai Dampak Kesehatan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 08:35 WIB

Peternakan Babi di Permukiman Makassar Ditertibkan Usai Keluhan Warga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:41 WIB

Karhutla Sumatra dan Kalimantan Belum Tuntas, Pemerintah Kerahkan 60 Ribu Personel

Senin, 12 Oktober 2026 - 11:14 WIB

Jalan Strategis Tanpa Jembatan, Warga Manggarai Timur Masih Berjuang Seberangi Sungai

Berita Terbaru