KALTENG – Api membakar lahan, kekeringan membayangi kehidupan warga, dan ribuan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah. Namun, di tengah situasi tersebut, sebuah seloroh Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran justru menyita perhatian publik.
“Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi,” ujar Agustiar ketika menyampaikan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi karhutla.
Kalimat itu kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai candaan, tetapi sebagian lainnya mempertanyakan kepantasan humor tersebut ketika ancaman kebakaran dan kekeringan masih membayangi Kalimantan Tengah.
Sorotan itu muncul bukan tanpa alasan. Hingga 7 Oktober 2026, Kalimantan Tengah mencatat 5.848 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar lebih dari 17 ribu hektare. Di balik angka tersebut, terdapat persoalan lingkungan dan keselamatan masyarakat yang membutuhkan penanganan serius.
Agustiar sendiri menekankan bahwa manusia menjadi faktor dominan penyebab kebakaran. Ia mengingatkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan kesadaran dan keterlibatan semua pihak.
“Kalau kebakaran lahan ini, kayaknya banyak oleh manusianya. Hampir 97 persen itu akibat manusianya,” kata Agustiar.
Pernyataan tersebut menempatkan perilaku manusia sebagai salah satu persoalan utama yang harus dibenahi. Pencegahan kebakaran, menurut pesan yang disampaikannya, memerlukan perubahan kesadaran agar masyarakat tidak melakukan tindakan yang berpotensi memicu api dan memperluas kerusakan lahan.
Ia juga menyinggung kondisi kekeringan yang menyertai situasi tersebut. Ketika sumber air terbatas dan kebakaran terus terjadi, masyarakat menghadapi persoalan yang saling berkaitan. Karena itu, kerja bersama menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak bencana.
“Cara melawannya dengan kebersamaan,” ujarnya.
Agustiar kemudian menekankan pentingnya kolaborasi sebagai landasan penanganan karhutla. Pemerintah, aparat, dan masyarakat perlu menyatukan langkah, baik dalam mencegah kebakaran maupun menangani dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan warga.
Namun, pesan tentang kolaborasi itu ikut terseret dalam perdebatan setelah Agustiar menutup pernyataannya dengan candaan yang tidak lazim dalam pembahasan bencana.
“Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi,” ucapnya.
Seloroh tersebut menjadi bagian yang paling banyak menarik perhatian dalam perbincangan publik. Di tengah situasi darurat lingkungan, komunikasi pejabat publik tidak hanya dinilai dari pesan yang ingin disampaikan, tetapi juga dari konteks dan momentum ketika pernyataan itu dilontarkan.
Di sisi lain, penanganan karhutla di Kalimantan Tengah membutuhkan sumber daya besar. Sebanyak 13.699 personel gabungan dikerahkan untuk mendukung penanganan kebakaran. Pemerintah juga membangun ratusan sumur bor dan melakukan 47 langkah penegakan hukum terkait persoalan karhutla.(Red)








