Penulis: Darni Ermilinda
OPINI–Di balik rutinitas sebagai asisten rumah tangga (ART) di sebuah rumah mewah di Kota Makassar, saya menyimpan sebuah dunia yang begitu saya cintai. Di sela kesibukan mengurus rumah dan mendampingi majikan, saya selalu berusaha menyediakan sedikit ruang untuk diri sendiri. Ruang itu saya gunakan untuk membaca, berpikir, dan merangkai kata.
Bagi saya, kehidupan tidak hanya tentang pekerjaan yang harus diselesaikan setiap hari, tetapi juga tentang mimpi yang harus tetap dirawat meskipun keadaan terkadang tidak berpihak.
Nama saya Darni Ermilinda, 21 tahun. Saya berasal dari Desa Manong, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan kini berdomisili di Kota Makassar. Jauh dari kampung halaman, saya menjalani kehidupan sebagai pekerja rumah tangga sekaligus seseorang yang sedang berusaha mempertahankan kecintaannya terhadap literasi.
Di tengah rutinitas tersebut, saya menyimpan harapan untuk suatu hari menjadi seorang penulis yang karyanya dapat dibaca dan memberikan inspirasi kepada banyak orang.
Bagi saya, menulis bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Ia menjadi ruang untuk menyampaikan suara hati, kegelisahan, pengalaman, serta berbagai hal yang terkadang sulit saya ungkapkan secara langsung.
Ada perasaan yang tidak mudah disampaikan kepada orang lain, tetapi menjadi lebih ringan ketika dituangkan ke dalam kalimat. Dari sanalah saya belajar bahwa kata-kata dapat menjadi tempat untuk menyimpan pengalaman sekaligus cara untuk memahami diri sendiri.
Kecintaan terhadap literasi sebenarnya sudah tumbuh sejak saya masih duduk di bangku sekolah. Ketika berada di kelas 6 SD, saya mulai membuat puisi dan pantun karya sendiri menggunakan sebuah buku tulis tipis yang selalu saya bawa.
Buku sederhana itu menjadi saksi awal saya mengenal kekuatan sebuah kata. Ketika memasuki SMA, ketertarikan tersebut semakin berkembang. Saya mulai mencoba membuat cerita pendek, puisi, bahkan menulis novel melalui aplikasi Fizzo.
Setiap karya yang saya hasilkan tidak sepenuhnya lahir dari imajinasi. Banyak di antaranya merupakan refleksi dari kehidupan yang pernah saya jalani, orang-orang yang saya temui, serta pengalaman yang meninggalkan kesan tertentu.
Apa yang saya lihat dan rasakan sering kali menjadi bahan untuk menyusun sebuah cerita. Bagi saya, pengalaman hidup tidak seharusnya hanya menjadi kenangan yang tersimpan dalam ingatan. Ia dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki makna dan mungkin saja memberikan pelajaran bagi orang lain.
Perjalanan tersebut kemudian mempertemukan saya dengan berbagai komunitas literasi melalui media sosial, khususnya Instagram. Salah satu komunitas yang cukup sering saya ikuti adalah Alinea Publisher.
Bagi saya, komunitas tersebut menjadi ruang untuk belajar sekaligus bertemu dengan orang-orang yang memiliki kegemaran yang sama. Beberapa kali saya mengirimkan cerita pendek untuk dibukukan bersama karya teman-teman penulis online lainnya.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika karya pertama saya berhasil dimuat dalam buku antologi berjudul “Hari Esok.” Karya tersebut dicantumkan dalam sebuah bab berjudul “Tak Mudah, Tapi Aku Tak Akan Menyerah.”
Bagi sebagian orang, judul itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi saya, kalimat tersebut memiliki makna yang dalam karena menggambarkan perjalanan hidup yang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Di dalamnya terdapat pengalaman, perjuangan, dan berbagai pelajaran yang saya dapatkan dari kehidupan.
Ketika melihat karya pertama saya menjadi bagian dari sebuah buku, muncul perasaan bahagia yang sulit saya gambarkan. Sesuatu yang awalnya hanya berupa gagasan di dalam kepala akhirnya memiliki bentuk dan dapat dibaca oleh orang lain. Momen tersebut semakin menguatkan keinginan saya untuk terus berkembang.
Saya kemudian menyimpan sebuah harapan besar yang hingga kini masih saya perjuangkan: “Saya berharap suatu saat bisa menjadi seorang penulis terkenal yang menginspirasi banyak orang.”
Namun, saya juga pernah merasa bahwa cita-cita tersebut terlalu tinggi. Kondisi ekonomi keluarga membuat saya sempat ragu apakah mimpi itu benar-benar dapat diwujudkan. Ada masa ketika saya berpikir bahwa kesempatan untuk mencapai sesuatu yang besar hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki fasilitas dan kondisi ekonomi yang lebih baik.
Akan tetapi, waktu perlahan mengubah cara pandang saya. Saya mulai memahami bahwa keadaan boleh menjadi tantangan, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengubur seluruh harapan.
Dulu, saya pernah percaya bahwa seseorang harus bergelar sarjana terlebih dahulu untuk menjadi seorang penulis. Pemikiran tersebut sempat menjadi batas bagi diri saya sendiri. Kini, saya mulai mematahkan anggapan itu.
Saya tetap mengakui bahwa pendidikan formal sangat penting, tetapi kemampuan berkarya tidak hanya lahir dari ijazah. Kemampuan tersebut juga dapat tumbuh melalui pengalaman, kebiasaan membaca, kemauan belajar, serta keberanian untuk mencoba dan menerima kritik.
Karena itu, saya tidak ingin menunggu sampai memiliki gelar tertentu untuk mulai berkarya. Saya memilih memanfaatkan apa yang tersedia saat ini. Sebuah ponsel, pengalaman hidup, berbagai bacaan, dan kemauan untuk terus belajar sudah cukup menjadi langkah awal. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk menghasilkan sesuatu selama ia mau memulai. Tidak perlu menunggu kehidupan menjadi sempurna untuk mengejar sebuah mimpi.
Setiap kali menemukan ajang kepenulisan di media sosial, saya berusaha ikut serta. Tidak semuanya berakhir dengan kemenangan, tetapi saya belajar bahwa menjadi juara bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Beberapa karya saya berhasil terpilih untuk dibukukan dan saya juga memperoleh sertifikat penghargaan.
Hingga saat ini, saya telah mengumpulkan tujuh sertifikat digital dari berbagai ajang antologi dan event Halo Penulis. Bagi saya, setiap penghargaan tersebut merupakan bagian kecil dari perjalanan panjang yang masih ingin saya lanjutkan.
Mengikuti proyek antologi juga bukan berarti saya mendapatkan penghasilan. Kami tidak dibayar, digaji, ataupun disewa oleh pihak tertentu. Buku-buku antologi yang diterbitkan membutuhkan biaya produksi sehingga para penulis biasanya harus membelinya.
Biaya tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari penyuntingan, penataan layout, kertas, tinta, hingga proses pencetakan. Sementara itu, sertifikat digital diberikan sebagai bentuk penghargaan bagi karya yang berhasil terpilih untuk diterbitkan.
Bagi saya, persoalannya bukan mengenai berapa banyak uang yang bisa diperoleh. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat gagasan yang sebelumnya hanya tersimpan dalam pikiran berubah menjadi sebuah karya.
Saya dapat berbicara kepada dunia tanpa harus berdiri di hadapan banyak orang. Ketika pikiran terasa penuh, saya memiliki tempat untuk menuangkannya. Ketika pengalaman terasa berat, saya berusaha mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih bermakna.
Dunia literasi juga membuka pintu pertemanan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Melalui berbagai kegiatan di media sosial, saya bertemu dengan orang-orang dari berbagai daerah yang memiliki ketertarikan serupa.
Kami kemudian memiliki grup komunitas untuk saling berbagi karya, mulai dari puisi, cerpen, hingga kalimat motivasi. Dari interaksi tersebut, saya belajar bahwa setiap orang memiliki kisah dan pengalaman yang berbeda. Semuanya dapat menjadi sumber pembelajaran apabila kita mau saling mendengarkan.
Pengalaman itu semakin membuat saya memahami bahwa menjadi penulis tidak harus menunggu gelar sarjana. Tidak harus berasal dari keluarga berada. Tidak pula harus memiliki fasilitas yang lengkap. Terkadang, sebuah mimpi hanya membutuhkan keberanian untuk dimulai. Saya memilih memulai dari keadaan yang saya miliki sekarang, meskipun langkahnya kecil dan perjalanan yang harus ditempuh masih panjang.
Saya juga tidak menulis hanya untuk mendapatkan validasi atau membuat orang lain mengagumi saya. Bagi saya, yang lebih penting adalah bagaimana literasi memberikan pengaruh positif dalam kehidupan. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membaca, berpikir, menyaring informasi, dan menyampaikan gagasan menjadi semakin penting. Sebuah karya mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa saja menjadi teman bagi seseorang yang sedang merasa sendiri atau menjadi pengingat bagi orang yang hampir menyerah.
Karena itu, saya memandang kegiatan ini bukan sekadar cara untuk menyampaikan keluh kesah. Lebih dari itu, pengalaman yang berat dapat dirangkai menjadi sebuah kisah yang memiliki arah.
Kesedihan tidak harus menjadi akhir. Kegagalan tidak harus menjadi titik berhenti. Setiap orang masih memiliki kesempatan untuk mengubah cara memandang perjalanan hidupnya dan menentukan langkah berikutnya.
Hari ini, saya masih bekerja sebagai ART di Kota Makassar. Saya masih jauh dari kampung halaman dan masih berada dalam proses belajar. Namun, saya tidak ingin pekerjaan, keadaan ekonomi, ataupun latar belakang menjadi alasan untuk mengecilkan mimpi.
Saya ingin terus membaca, belajar, berkarya, dan mengembangkan kemampuan yang saya miliki. Saya tidak tahu kapan mimpi itu akan tercapai, tetapi saya percaya bahwa perjalanan panjang selalu dimulai dari satu langkah kecil.
Saya adalah Darni Ermilinda, perempuan berusia 21 tahun dari Desa Manong, Manggarai Barat, yang kini menjalani kehidupan sederhana di Kota Makassar. Saya mungkin belum memiliki banyak hal untuk dibanggakan, tetapi saya memiliki sesuatu yang ingin terus saya jaga: harapan.
Saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa latar belakang bukanlah batas akhir dari sebuah perjalanan. Selama masih ada kemauan, selalu ada kemungkinan untuk membuka pintu menuju kehidupan yang lebih baik.
Pada akhirnya, kehidupan adalah rangkaian halaman yang terus bergerak. Kita tidak selalu mampu menentukan halaman pertama, tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang akan terjadi pada halaman berikutnya.
Masa lalu mungkin telah memberikan cerita yang tidak mudah, tetapi masa depan belum selesai ditulis. Kita semua adalah cerita yang terkadang tidak sempat kita tulis sendiri, tetapi kitalah pena yang memegang kendali atas kisah tersebut.
Saya memilih untuk terus berjalan dan tidak berhenti pada halaman yang penuh kesulitan. Saya ingin menjadikan pengalaman sebagai pelajaran, kegagalan sebagai pijakan, dan harapan sebagai alasan untuk tetap melangkah.
Sebab bagi saya, sebuah cerita tidak benar-benar berakhir hanya karena satu halaman telah ditutup. Selama kehidupan masih berjalan, selalu ada kesempatan untuk menulis halaman berikutnya dengan lebih baik.








