SEMARANG– Memasuki puncak musim kemarau, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Jawa Tengah terus meningkat. Menyikapi kondisi tersebut, Polda Jawa Tengah memperkuat langkah pencegahan melalui patroli intensif, pemantauan titik panas (hotspot), serta edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran.
Dalam sepekan terakhir, sejumlah peristiwa karhutla terjadi di Kabupaten Banyumas, Wonogiri, Sukoharjo, Pati, dan Grobogan.
Seluruh kejadian berhasil ditangani petugas gabungan, namun kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa risiko kebakaran masih tinggi selama musim kemarau berlangsung.
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol. Yuliyanto mengatakan seluruh Polres jajaran telah diinstruksikan meningkatkan patroli di kawasan hutan, perkebunan, lahan pertanian, hingga wilayah lain yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran.
“Selain melakukan patroli, pemantauan hotspot berbasis data satelit juga terus dioptimalkan. Setiap titik panas yang terdeteksi segera diverifikasi oleh personel di lapangan agar kondisi sebenarnya dapat diketahui secepat mungkin. Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap potensi kebakaran dapat ditangani sejak dini sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar,” ujar Kombes Pol. Yuliyanto, Jumat (31/7/2026).
Salah satu peristiwa terbaru terjadi di kawasan Petak 32 Perhutani Banyumas Barat, Desa Tipar Kidul, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Kamis (30/7/2026).
Personel Polsek Ajibarang bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) bergerak cepat melakukan pemadaman sehingga kobaran api berhasil dikendalikan sekitar pukul 14.02 WIB sebelum merambat ke kawasan hutan yang lebih luas.
Keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, BPBD, Perhutani, relawan, dan masyarakat dalam merespons kebakaran secara cepat.
Upaya serupa juga dilakukan di Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo, Grobogan, dan Pati untuk mencegah meluasnya dampak kebakaran.
Di Kabupaten Pati, jajaran Polresta Pati melakukan pengecekan terhadap sejumlah hotspot yang terpantau melalui citra satelit NASA dan aplikasi Sipongi pada 29–30 Juli 2026 di wilayah Kayen, Sukolilo, Pucakwangi, dan Wedarijaksa.
Hasil pemeriksaan menunjukkan sebagian besar titik panas berasal dari pembakaran sisa hasil pertanian seperti daun tebu, batang jagung, janggel jagung, dan semak belukar yang telah padam.
Meski demikian, petugas tetap melakukan penyisiran guna memastikan tidak ada bara api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
Menurut Kombes Pol. Yuliyanto, sebagian besar kebakaran lahan pada musim kemarau dipicu oleh aktivitas manusia yang kurang memperhatikan aspek keselamatan saat membersihkan lahan atau membakar sisa hasil panen.
“Musim kemarau ditambah hembusan angin membuat api yang awalnya kecil dapat dengan cepat merambat dan sulit dikendalikan. Karena itu kami mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan maupun sisa hasil pertanian tanpa pengawasan. Jika memang terpaksa dilakukan, pastikan benar-benar aman dan jangan meninggalkan lokasi sebelum api dipastikan padam,” tegasnya.
Ia menambahkan, Polda Jawa Tengah akan terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla selama musim kemarau.
“Karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengganggu kesehatan masyarakat, merugikan sektor pertanian, bahkan dapat membahayakan keselamatan jiwa. Kami mengajak seluruh masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan. Apabila melihat titik api atau kepulan asap, segera laporkan kepada kepolisian atau instansi terkait agar dapat segera ditangani. Dengan kepedulian dan kerja sama seluruh elemen masyarakat, kita dapat mencegah karhutla dan menjaga Jawa Tengah tetap aman serta kondusif,” pungkas Kombes Pol. Yuliyanto.(Satiah)








