Pilkades Compang Dalo, Warga Diingatkan Jangan Salah Menentukan Masa Depan Desa 

Senin, 28 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Marsianus Jandu

Marsianus Jandu

MANGGARAI — Masa depan sebuah desa tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling dikenal, paling banyak memiliki pengaruh, atau paling kuat menggerakkan dukungan. Di tengah menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di sejumlah wilayah Kabupaten Manggarai, muncul seruan agar masyarakat berani melihat kepemimpinan dari sisi yang berbeda: gagasan, integritas, dan keberanian membawa perubahan.

Seruan itu datang dari Robiarto Mansen, Ketua BEM FKIP Universitas Patompo Makassar yang juga merupakan pemuda asal Desa Compang Dalo. Ia mengajak masyarakat desa tersebut untuk tidak lagi terjebak pada politik nama besar maupun politik uang dalam menentukan pilihan kepala desa.

Bagi Robiarto, desa membutuhkan pemimpin yang mampu membaca perubahan zaman sekaligus memiliki keberanian untuk meninggalkan pola pembangunan yang selama ini dianggap berjalan monoton. Figur muda, menurut dia, memiliki peluang membawa energi, kreativitas, dan gagasan baru untuk menjawab kebutuhan masyarakat desa.

“Desa tidak boleh dipimpin dengan cara lama. Jika kadesnya masih berpikir proyek, bukan pemberdayaan, maka desa akan tetap begitu-begitu saja. Pilih calon kades yang muda, yang otaknya masih segar dan hatinya masih berani,” ujar Robiarto, Senin (28/9/2026).

Ia menilai kepemimpinan desa seharusnya tidak berhenti pada pembangunan fisik atau orientasi proyek semata. Lebih jauh, kepala desa dituntut mampu menciptakan program yang memberi ruang bagi masyarakat untuk berkembang, terutama generasi muda, kelompok perempuan, petani, serta pelaku usaha di desa.

Menurut Robiarto, politik uang juga berpotensi membuat masyarakat kehilangan kesempatan mendapatkan pemimpin yang benar-benar bekerja untuk kepentingan desa. Karena itu, ia meminta warga mempertimbangkan rekam jejak, visi, misi, dan kemampuan calon sebelum menentukan pilihan.

“Jangan pilih kades karena dia paling banyak kasih uang serangan fajar. Pilih karena dia punya gagasan. Kalau salah pilih, delapan tahun desa kita jalan di tempat,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar momentum Pilkades tidak berubah menjadi sumber perpecahan di tengah keluarga dan lingkungan sosial. Perbedaan pilihan politik, kata dia, merupakan bagian dari proses demokrasi yang seharusnya tidak menghilangkan hubungan persaudaraan.

“Berbeda pilihan itu biasa. Jangan sampai karena Pilkades kita saling bermusuhan. Setelah pemilihan selesai, semua harus kembali bersatu karena yang kita bangun bukan kepentingan satu calon, tetapi masa depan desa,” katanya.

Dalam konteks Pilkades Compang Dalo, Robiarto secara terbuka menyebut pasangan calon nomor urut 4, Marsianus Jandu, sebagai figur muda yang menurutnya layak diperjuangkan. Ia melihat kehadiran figur muda sebagai bagian dari kebutuhan regenerasi kepemimpinan di tingkat desa.

“Sudah saatnya desa dipimpin oleh yang muda. Yang tua tetap kita hormati sebagai penasihat dan penjaga adat. Tetapi untuk urusan masa depan desa, kita membutuhkan energi baru, gagasan baru, dan cara baru dalam membangun,” ujar Robiarto.

Ia berharap masyarakat Compang Dalo menggunakan hak pilih secara rasional dan tidak menjadikan pemberian materi sesaat sebagai ukuran dalam menentukan pemimpin untuk masa jabatan yang panjang.

“Kalau kita ingin desa berubah, keberanian memilih pemimpin dengan gagasan juga harus dimulai dari masyarakat. Jangan takut memberikan kesempatan kepada anak muda,” pungkasnya. (even)

Berita Terkait

Menanti Hujan di Kalimantan Tengah, Pemerintah Andalkan Modifikasi Cuaca untuk Bantu Pemadama
Warga Busang Keluhkan Dugaan Tambang Ilegal, Sumber Air PDAM Jadi Kekhawatiran
Polusi PM2.5 Meningkat, BPBD Makassar Minta Warga Waspadai Dampak Kesehatan
Peternakan Babi di Permukiman Makassar Ditertibkan Usai Keluhan Warga
Jalan Strategis Tanpa Jembatan, Warga Manggarai Timur Masih Berjuang Seberangi Sungai
Karhutla Kalteng Tembus 17 Ribu Hektare, Candaan Agustiar Sabran Jadi Sorotan
Jangan Bicara 2029, Mahasiswa Desak Pemerintah Prioritaskan Korban Gempa Flores
Perjuangan Excel Belum Usai, Keluarga Berharap Bantuan untuk Pengobatan Lanjutan 

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:26 WIB

Menanti Hujan di Kalimantan Tengah, Pemerintah Andalkan Modifikasi Cuaca untuk Bantu Pemadama

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:05 WIB

Warga Busang Keluhkan Dugaan Tambang Ilegal, Sumber Air PDAM Jadi Kekhawatiran

Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:09 WIB

Polusi PM2.5 Meningkat, BPBD Makassar Minta Warga Waspadai Dampak Kesehatan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 08:35 WIB

Peternakan Babi di Permukiman Makassar Ditertibkan Usai Keluhan Warga

Minggu, 11 Oktober 2026 - 18:04 WIB

Karhutla Kalteng Tembus 17 Ribu Hektare, Candaan Agustiar Sabran Jadi Sorotan

Berita Terbaru