MANGGARAI TIMUR—Bukan alat berat milik pemerintah yang membuka akses sepanjang 1,3 kilometer di antara Kampung Ntaur dan Kampung Pupung, melainkan tangan warga yang setiap hari melintasi medan tersebut. Dengan bergotong royong, masyarakat Rondo Woing, Kecamatan Rana Mese, mengerjakan rabat beton menggunakan kemampuan yang mereka miliki sendiri.
Lintasan yang menghubungkan Kampung Ntaur, Desa Sano Lokom, dengan Kampung Pupung, Desa Rondo Woing, selama bertahun-tahun menjadi bagian dari keseharian warga. Ketika penanganan infrastruktur belum kunjung dirasakan, mereka memilih mengambil langkah mandiri daripada terus menunggu.
Bagi warga, pekerjaan tersebut bukan sekadar memperkeras permukaan tanah. Akses yang lebih baik diharapkan dapat memudahkan perjalanan menuju kebun, sekolah, fasilitas kesehatan, maupun berbagai kebutuhan sosial dan ekonomi.
Fransiskus Anding, pemuda Kampung Pupung, mengatakan keputusan mengerjakan rabat secara gotong royong lahir dari kondisi yang sudah berlangsung cukup lama.
“Sudah masuk 19 tahun Kabupaten Manggarai Timur berdiri. Namun, bagi kami masyarakat Desa Rondo Woing, waktu seolah berhenti. Pembangunan yang sering dibicarakan itu tidak pernah benar-benar tiba di tempat kami,” ujar Fransiskus saat dikonfirmasi Media Hariancerdas.com, Rabu (30/9/2026).
Menurut dia, ruas sepanjang sekitar 1,3 kilometer tersebut memiliki posisi penting bagi warga karena menjadi penghubung antarkampung. Selama belum ditangani secara memadai, perjalanan harus melewati bebatuan, lumpur, hingga sejumlah bagian yang menyerupai dasar sungai.
Kondisi itu membuat warga menghadapi kesulitan bukan hanya ketika musim hujan. Aktivitas harian juga ikut terdampak karena akses tersebut digunakan untuk berbagai keperluan.
Daripada menunggu tanpa kepastian, warga kemudian mengumpulkan tenaga dan sumber daya yang tersedia untuk memperbaiki sebagian ruas tersebut.
“Kami bergotong royong membangun jalan rabat secara swadaya. Kami mengumpulkan tenaga, waktu, pikiran, dan biaya sendiri karena kami sadar bahwa jika hanya menunggu, entah sampai kapan jalan yang layak itu akan menjadi kenyataan,” katanya.
Bagi Fransiskus, keterlibatan warga menunjukkan masih kuatnya semangat gotong royong di tengah keterbatasan. Mereka tidak hanya menyampaikan keluhan, tetapi ikut bekerja agar akses yang selama ini menyulitkan perlahan dapat diperbaiki.
Meski demikian, inisiatif tersebut tidak berarti warga menganggap kewajiban pemerintah telah selesai. Menurut Fransiskus, kemampuan masyarakat memiliki batas, sementara kebutuhan infrastruktur jauh lebih luas dibandingkan yang dapat mereka tangani secara mandiri.
“Betapa ironisnya keadaan ini. Rakyat yang membayar pajak justru harus membangun jalannya sendiri. Rakyat yang selalu memenuhi kewajibannya justru harus berjuang sendirian untuk mendapatkan haknya,” ujarnya.
Ia menuturkan, selama bertahun-tahun warga juga terbiasa menghadapi perjalanan dengan kondisi medan yang sulit. Dalam situasi tertentu, sebagian penduduk bahkan harus menyeberangi sungai tanpa jembatan ketika menjalankan aktivitas sehari-hari.
Karena itu, setiap bagian rabat yang berhasil diselesaikan memiliki arti tersendiri bagi mereka. Material dan tenaga yang dikeluarkan bukan berasal dari proyek pemerintah, melainkan dari kesediaan warga menyisihkan apa yang mereka punya.
Namun, Fransiskus berharap upaya tersebut tidak kemudian menjadi alasan bagi pemerintah untuk membiarkan persoalan akses berlangsung tanpa penanganan lebih lanjut.
“Kami tidak meminta kemewahan. Kami hanya meminta keadilan. Kami hanya ingin merasakan pembangunan yang sama seperti masyarakat di daerah lain,” tuturnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur melihat langsung kondisi wilayah tersebut dan memberikan perhatian terhadap kebutuhan infrastruktur dasar. Menurutnya, konektivitas antarwilayah berkaitan erat dengan kehidupan warga, mulai dari aktivitas ekonomi hingga pendidikan dan pelayanan kesehatan.
Rabat yang dikerjakan secara gotong royong itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar hamparan beton. Di sana terdapat tenaga warga, waktu yang mereka sisihkan, serta harapan agar akses yang selama ini sulit dilalui dapat berubah menjadi jalur yang lebih aman dan mudah digunakan.
“Jalan yang kami bangun dengan keringat dan air mata ini adalah saksi bahwa masyarakat Rondo Woing tidak pernah berhenti berjuang. Namun, jalan ini juga akan menjadi pengingat bahwa pemerintah Kabupaten Manggarai Timur pernah terlalu lama absen dari tempat ini,” katanya.
Ruas sepanjang 1,3 kilometer tersebut memang belum menyelesaikan seluruh persoalan infrastruktur yang dihadapi warga. Tetapi dari keterbatasan yang ada, masyarakat telah menunjukkan satu hal: ketika akses belum kunjung dibenahi, mereka memilih bekerja dengan tangan sendiri.
Fransiskus menegaskan warga akan terus menyampaikan kebutuhan tersebut kepada pemerintah hingga perhatian terhadap kondisi wilayah mereka benar-benar diwujudkan.
“Kami tidak akan berhenti bersuara, sebab diam hanya akan membuat kami semakin dilupakan,” pungkasnya. (Eventus)








