Dari Sungai Aralle, Harapan Baru Itu Tumbuh Lewat Ikan Nila

Minggu, 27 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sungai Aralle menjadi lokasi pengembangan potensi ikan nila di Buntu Malangka (Ist)

Sungai Aralle menjadi lokasi pengembangan potensi ikan nila di Buntu Malangka (Ist)

MAMASA—Di antara aliran sungai yang membelah kawasan Buntu Malangka’, ada harapan yang sedang ditanam. Bukan berupa benih tanaman atau bangunan baru, melainkan ratusan ekor ikan nila yang dilepas ke perairan dengan satu gagasan: sungai bisa menjadi sumber penghidupan tanpa harus kehilangan kelestariannya.

Gagasan itu datang dari penggiat lingkungan sekaligus mahasiswa FIKP Universitas Hasanuddin dan founding Ekomarine Celebes, Amerigo Melkisedek. Ia melihat potensi perikanan air tawar di Buntu Malangka’ bukan semata sebagai kegiatan budidaya, tetapi sebagai jalan untuk membangun ekonomi masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran menjaga lingkungan.

“Ikan nila bisa menjadi penggerak roda ekonomi baru sekaligus bagian dari edukasi lingkungan bagi masyarakat. Potensi ini perlu dikembangkan karena Buntu Malangka’ memiliki sumber daya air yang cukup besar,” ujar Amerigo, Minggu (27/9/2026).

Buntu Malangka’ memiliki sejumlah aliran sungai yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Salah satunya Sungai Aralle yang disebut bersumber dari kawasan Gunung Gandang Dewata. Aliran air tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kawasan ini dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan perikanan air tawar.

Di tengah potensi itu, terdapat persoalan yang tidak kalah penting: cara manusia memperlakukan sungai.

Amerigo menyoroti praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, termasuk penggunaan racun. Cara semacam itu tidak hanya mengambil ikan dari sungai, tetapi juga berisiko mengganggu ekosistem perairan yang menjadi tempat hidup berbagai organisme.

“Kalau sungai hanya dipandang sebagai tempat mengambil ikan sebanyak-banyaknya, lama-lama sumber dayanya akan berkurang. Karena itu, masyarakat perlu memiliki pilihan lain melalui budidaya yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan,” ungkapnya.

Dari situlah ikan nila ditempatkan dalam gagasan yang lebih luas. Budidaya bukan hanya perkara menghasilkan ikan untuk dikonsumsi atau dijual. Ada upaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap sungai dari sumber daya yang terus dieksploitasi menjadi ekosistem yang dirawat karena memberikan manfaat jangka panjang.

Dalam tahap awal kegiatan, sekitar 500 ekor ikan nila telah ditempatkan di beberapa titik hulu Sungai Aralle. Jumlah yang sama, sekitar 500 ekor, juga ditempatkan di sekitar Desa Bumal.

Amerigo melihat kegiatan tersebut sebagai langkah awal yang masih membutuhkan pendampingan. Pemerintah, menurut dia, memiliki peran penting untuk memastikan gagasan serupa tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi program pemberdayaan masyarakat.

“Harapannya pemerintah segera mengawal kegiatan-kegiatan seperti ini. Kerja sama masyarakat dan pemerintah dalam bidang perikanan dapat menunjang peningkatan perekonomian sekaligus membuka peluang bagi pengembangan pariwisata daerah,” tuturnya.

Bagi Amerigo, persoalan sungai tidak berhenti pada ikan dan air. Ada pendidikan lingkungan yang bisa dibangun dari sana.

Ia mencontohkan sejumlah wilayah di Jepang, termasuk Shimabara dan Nagasaki, yang menurutnya menunjukkan bagaimana sungai di kawasan perkotaan dapat tetap dirawat dan menjadi habitat berbagai biota air. Pengelolaan tersebut, kata dia, dapat menjadi pembelajaran bahwa keberadaan sungai dan aktivitas manusia semestinya tidak selalu berakhir pada kerusakan lingkungan.

“Di Jepang, sungai di sejumlah wilayah tetap dirawat dan dihuni berbagai biota air. Itu bisa menjadi pembelajaran bahwa sungai dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus ruang edukasi lingkungan,” katanya.

Potensi ikan nila, pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa ekor ikan yang tumbuh dan berapa rupiah yang dihasilkan. Lebih jauh, ada upaya membangun hubungan baru antara masyarakat dan sungai.

Sungai Aralle dan aliran air lainnya dapat menjadi ruang ekonomi, pendidikan, bahkan bagian dari daya tarik wisata apabila dikelola secara berkelanjutan.

“Yang paling penting bukan hanya berapa banyak ikan yang bisa dibudidayakan, tetapi bagaimana sungai tetap sehat dan masyarakat mendapatkan manfaat ekonominya. Ekonomi dan lingkungan harus berjalan bersama,” ujar Amerigo. (even)

Berita Terkait

Bahlil Sebut Stok BBM Nasional Aman 16–18 Hari, Distribusi di Bali Terkendala
Listrik Batam Bermasalah, Bahlil Ungkap Dugaan Petir hingga Gangguan Kelelawar
Mendagri Terbitkan SK Pemberhentian Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang, Darmawangsyah Muin Ditunjuk Jadi Plt ‎
Pengelola Air Terjun Tiwu Pai Minta Legalitas, Potensi Wisata Manggarai Menanti Kepastian ‎
Menanti Hujan di Kalimantan Tengah, Pemerintah Andalkan Modifikasi Cuaca untuk Bantu Pemadama
Warga Busang Keluhkan Dugaan Tambang Ilegal, Sumber Air PDAM Jadi Kekhawatiran
Polusi PM2.5 Meningkat, BPBD Makassar Minta Warga Waspadai Dampak Kesehatan
Peternakan Babi di Permukiman Makassar Ditertibkan Usai Keluhan Warga

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Bahlil Sebut Stok BBM Nasional Aman 16–18 Hari, Distribusi di Bali Terkendala

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:47 WIB

Listrik Batam Bermasalah, Bahlil Ungkap Dugaan Petir hingga Gangguan Kelelawar

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:05 WIB

Mendagri Terbitkan SK Pemberhentian Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang, Darmawangsyah Muin Ditunjuk Jadi Plt ‎

Kamis, 15 Oktober 2026 - 02:12 WIB

Pengelola Air Terjun Tiwu Pai Minta Legalitas, Potensi Wisata Manggarai Menanti Kepastian ‎

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:05 WIB

Warga Busang Keluhkan Dugaan Tambang Ilegal, Sumber Air PDAM Jadi Kekhawatiran

Berita Terbaru