MANGGARAI TIMUR—Pukul tiga pagi bukan lagi waktu bagi warga Desa Sisir, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur untuk tidur nyenyak. Pada jam itu, sebagian warga justru mulai bersiap membawa jeriken dan ember untuk mencari air.
Sudah sekitar empat bulan sumur-sumur warga mengering. Air yang masih bisa diperoleh berada di Nuling, Desa Sisir. Namun, sumber itu tidak mampu memenuhi kebutuhan warga. Debit airnya kecil sehingga mereka harus menunggu lama untuk mendapat giliran.
Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari warga ikut berubah. Mereka harus mengatur waktu hanya untuk mendapatkan air. Jika siang hari tidak kebagian, sebagian warga kembali pada tengah malam hingga dini hari, menunggu air yang keluar perlahan dari sumber tersebut.
Kisah perjuangan warga Sisir sebelumnya juga telah diberitakan Hariancerdas.com. Warga harus berjalan cukup jauh, sekitar 1 sampai 3 kilometer, dengan melewati jalan menurun ke lembah dan kembali mendaki sambil membawa jeriken berisi air.
Beban itu dirasakan lebih dari 140 kepala keluarga. Dusun Nganta menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak, dengan lebih dari 60 KK. Bahkan, satu fasilitas kesehatan di wilayah tersebut ikut menghadapi keterbatasan air.
Bagi warga, mendapatkan air bukan sekadar persoalan mengambil dari sumber. Ada tenaga yang harus dikeluarkan, waktu yang terbuang dan biaya yang harus disiapkan.
Untuk membawa air dalam jumlah lebih banyak, warga terpaksa menyewa sepeda motor dengan biaya sekitar Rp10 ribu setiap jeriken.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur menyatakan akan mengambil langkah.
Sekretaris Daerah Manggarai Timur, Winsensius Tala, mengatakan pemerintah daerah telah mengetahui persoalan yang dihadapi masyarakat Desa Sisir. Ia memastikan pembangunan sumur bor akan diupayakan tahun ini.
“Kami akan terus berusaha mengatasi hal ini. Pemda Matim memastikan tahun ini dan dalam waktu dekat akan dibangun sumur bor sesuai kebutuhan dan permintaan warga di Desa Sisir,” kata Winsensius saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu, 30 September 2026.
Janji pembangunan sumur bor itu menjadi harapan baru bagi warga. Sebab, persoalan kekurangan air di Sisir bukan baru terjadi tahun ini. Setiap kali kemarau berlangsung panjang, masyarakat kembali menghadapi kesulitan yang sama.
Herry Narendra, warga Desa Sisir, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menurut dia, warga sudah terbiasa menghadapi musim kemarau dengan mencari air dari tempat yang jauh.
“Kami sudah mengalami krisis air empat bulan terakhir, semua sumur kering. Untuk mendapatkan air kami harus bangun jam tiga pagi untuk mengantri sumur, itu pun airnya berbau dan kotor,” ujar Herry.
Menurut Herry, warga tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin memiliki sumber air yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, terutama saat musim kemarau.
“Untuk mendapatkan air dalam jumlah banyak kami harus menyewa motor dengan harga sepuluh ribu per jerigen. Kondisi ini sudah kami alami selama puluhan tahun terakhir. Kami berharap perhatian pemerintah. Kami butuh sumur bor, kami butuh air minum bersih,” katanya.
Harapan itu kini tertuju pada rencana pemerintah membangun sumur bor. Warga berharap rencana tersebut tidak berhenti sebagai pernyataan, tetapi benar-benar dikerjakan di lapangan. (Eventus)








