MANGGARAI TIMUR – Ketika sebagian orang masih terlelap, warga Dusun Kanun, Desa Golo Lebo, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), justru mulai bergerak mencari sesuatu yang paling mendasar dalam kehidupan: air bersih.
Pukul 03.00 WITA menjadi waktu yang tak asing bagi warga. Mereka harus bangun lebih awal untuk berjalan menuju sumber air, mengantre, lalu membawa pulang air menggunakan jeriken atau ember untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi itu telah berlangsung bukan sehari atau dua hari. Warga mengaku krisis air bersih sudah mereka rasakan selama puluhan tahun.
Kini, masyarakat Dusun Kanun yang terdiri dari sekitar 45 kepala keluarga (KK) bahkan harus bergotong royong mencari dan menggali sumber air baru yang berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman.
Salah satu warga Desa Golo Lebo, Petrus Y. Romla, mengatakan warga terpaksa melakukan pekerjaan tersebut secara manual karena keterbatasan sarana air bersih.
“Kami sudah mengalami krisis air selama puluhan tahun. Untuk mendapatkan air, kami harus bangun jam tiga pagi dan mengantre di sumur. Itu pun airnya berbau dan kotor,” kata Petrus, Sabtu (3/10/2026).
Menurut Petrus, sumber air yang selama ini masih dapat diakses warga berada di wilayah Kendang, Desa Golo Lebo. Namun, debit air dari sumber tersebut sangat kecil sehingga warga kembali melakukan penggalian dan renovasi agar kapasitas air dapat bertambah.
Warga kemudian menjadwalkan kegiatan gotong royong setiap Sabtu. Dengan menggunakan peralatan sederhana dan tenaga manual, mereka menggali serta memperbaiki sumber air yang diharapkan bisa menjadi tumpuan baru bagi kebutuhan masyarakat.
Perjuangan mendapatkan air itu tidak mudah. Warga harus berjalan kaki menuruni lembah menuju sumber air yang berada cukup jauh dari permukiman. Setelah mendapatkan air, mereka kembali menempuh perjalanan dengan membawa jeriken atau ember yang semakin berat ketika diisi penuh.
Bagi warga, perjalanan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas, terutama ketika musim kemarau panjang melanda.
“Kalau siang tidak mendapatkan air, kami terpaksa kembali lagi malam hari. Ada yang harus pergi sekitar pukul 01.00 sampai 02.00 WITA untuk mengantre,” ujar Petrus.
Ia mengatakan, persoalan air bersih bukan baru terjadi di Desa Golo Lebo. Kondisi tersebut telah menjadi masalah yang berulang selama bertahun-tahun dan paling terasa ketika sumber air mulai mengering atau debitnya semakin kecil.
Petrus berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan dasar masyarakat tersebut. Menurutnya, pembangunan sumur bor menjadi salah satu solusi yang sangat dibutuhkan warga.
“Kami berharap ada perhatian pemerintah. Kami butuh sumur bor. Kalau belum bisa, kami juga membutuhkan semen sekitar 50 sak, batu dan pasir untuk memperbaiki sumur yang sudah ada agar menjadi sumur permanen,” katanya.
Krisis air bersih tersebut disebut berdampak terhadap lebih dari 120 KK di wilayah Desa Golo Lebo. Dusun Kanun menjadi salah satu wilayah yang paling merasakan kesulitan karena sekitar 45 KK harus bergantung pada sumber air yang terbatas.
Di tengah keterbatasan itu, gotong royong menjadi cara warga bertahan. Mereka menggali, memperbaiki dan mencari sumber air baru dengan tenaga sendiri.
Namun, bagi warga, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan gotong royong. Mereka membutuhkan sarana air bersih yang permanen agar perjuangan mencari air tidak terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Kami hanya ingin air bersih yang layak untuk kebutuhan sehari-hari. Kami berharap pemerintah bisa membantu agar masyarakat tidak lagi berjalan jauh mencari air,” kata Petrus. (Red)








