MANGGARAI TIMUR – Hujan seharusnya menjadi alasan seseorang untuk segera pulang dan berlindung di dalam rumah. Namun, bagi Petrus Gamar dan Kosmas Nasar, hujan justru menjadi saat ketika tempat tinggal mereka tak lagi mampu memberi perlindungan.
Air menetes dari atap bambu yang telah lapuk. Pada malam tertentu, dua saudara penyandang disabilitas itu terpaksa meninggalkan rumah sederhana mereka dan menumpang tidur di rumah tetangga.
Petrus Gamar, 60 tahun, dan Kosmas Nasar, 54 tahun, tinggal di Kampung Majung, Desa Golo Rengket, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Di tengah berbagai program bantuan dan penanganan masyarakat yang membutuhkan, kehidupan dua bersaudara tersebut berlangsung jauh dari sorotan.
Saat ditemui media pada Sabtu (05/9/2026), keduanya tidak banyak berbicara. Ekspresi kebingungan terlihat di wajah mereka.
Kisah kehidupan Petrus dan Kosmas kemudian dituturkan oleh Ignasius Suvani, tetangga yang selama ini mengetahui kondisi keduanya.
Menurut Ignasius, dua bersaudara itu menjalani kehidupan dengan saling bergantung. Keterbatasan fisik membuat Kosmas membutuhkan bantuan kakaknya dalam memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari.
“Kedua adik kakak tersebut hidup saling bergantung. Sang kakak sering berbicara sendiri, sementara sang adik hanya bisa duduk. Ia tidak memiliki kedua jari tangan,” ungkap Ignasius.
Kondisi tersebut membuat Kosmas tidak dapat melakukan sejumlah aktivitas secara mandiri.
“Kalau mau makan saja, sang adik harus menunggu kakaknya karena tidak bisa memegang apa-apa karena tidak punya jari tangan,” lanjutnya.
Sementara itu, Petrus berusaha memenuhi kebutuhan mereka dengan pekerjaan sederhana. Ia mencari dan menjual kayu bakar. Penghasilan yang diperoleh digunakan untuk menyambung kehidupan sehari-hari bersama sang adik.
Rumah bambu yang kini ditempati keduanya, kata Ignasius, bukan berasal dari program bantuan perumahan. Bangunan tersebut dibangunnya sendiri beberapa tahun lalu karena merasa iba melihat kondisi Petrus dan Kosmas.
“Rumah ini sudah lama saya bangun karena kasihan dengan mereka berdua. Sang kakak kadang emosi dengan adiknya yang tidak punya tangan. Sekarang rumah tersebut sudah tidak layak untuk ditinggali,” tuturnya.
Seiring waktu, kondisi bangunan semakin memprihatinkan. Atap mengalami kerusakan dan bocor ketika hujan turun.
“Kalau hujan, semenjak atapnya bocor, mereka biasanya tidur di rumah saya,” kata Ignasius.
Tempat tinggal yang seharusnya menjadi ruang paling aman kini tidak selalu mampu melindungi mereka.
Ignasius juga menyebut kedua saudara tersebut selama ini belum mendapatkan bantuan pemerintah. Salah satu kendala yang diduga membuat mereka sulit mengakses berbagai program adalah ketiadaan dokumen administrasi kependudukan.
“Mereka tidak punya Kartu Keluarga dan KTP. Mereka juga tidak memiliki BPJS Kesehatan. Mungkin karena itu yang membuat mereka tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah,” jelasnya. (Inong)








